Sabtu, 16 Agustus 2014

Meanwhile on the Train

There's a lot of things, like, 'lots' on the last few months of my life. 

I've been started my internship since about two weeks ago, in an advertising company that I enjoy very much. Perusahaan Jepang, perusahaan yang besar, perusahan yang sudah saya incar dari dulu. Saya kira, dua bulan magang bakal jadi hal yang membosankan. Cerita-cerita temen tentang di tempat magang yang kerjaannya cuma lomba 'lama-lamaan' di kantor, fortunatelly, nggak terjadi sama saya. Saya memang baru magang dua minggu, tapi saya dapat pengalaman yang nggak terhingga. Now I understand why the internship experience will be really, like really beneficial if I go to work later. 

Saya bukan cuma merasakan senangnya bisa berkontribusi untuk satu perusahaan, bertukar pikiran sama supervisor saya yang masih muda tapi berwawasan luas, gimana 'bangganya' waktu supervisor bilang "Untung kamu ngasih tau.." or things like that. Hal-hal seperti itu kayaknya nggak ada kata-kata yang cukup untuk menggambarkannya. That was kind of feeling that if you haven't experienced it, you will never know. Or the time when I got my first paycheck, I was very very happy. Setelah berhari-hari berdesak-desakan sama orang-orang di kereta, bingung sama hingar-bingar ibu kota, mendapat gaji dari hasil keringat sendiri rasanya nggak bisa digambarkan dengan kata-kata. Jumlahnya memang nggak besar. Tapi uang itu, bertahan beberapa minggu di dompet saya. Masih dalam posisi ter-hekter dengan baik. Sayapun lama menimbang-nimbang untuk apa uang itu mau saya pake. Beli sepatu.... beli baju... atau beli apa ya? But I ended up giving the money to my parent. A friend of mine, who is really really wise, was giving me such a wonderful advice. Gaji pertama, bukan hal yang bakal saya dapatkan setiap bulannya kan? Sepatu, baju, atau hal-hal yang saya pengen beli bisa menunggu. Tapi saya pengen gaji pertama ini jadi spesial.

Rabu, 09 Juli 2014

May I Say, Pilpres Shows The Real You?

Akhirnya, 9 Juli lewat juga. Jerman membantai Brazil dengan skor yang entah-siapa-bisa-menduga - 7-1. Di kandang sendiri. Nggak, saya nggak mau ngomongin piala dunia kok. Saya beli jersey timnas Jepang, tapi nggak pernah nonton Jepang main sampai akhirnya tersingkir. Saya update berita tentang orang-orang yang melempari timnas Korea dengan toffee di bandara Incheon setelah mereka gagal tembus ke perdelapan final, tapi nggak sekalipun saya nonton pertandingannya timnas Korea. Pertandingan Jerman-Brazil ini adalah pertandingan pertama yang saya tonton pada gelaran piala dunia ini. Nontonnya pun pas skornya udah 5-0. Jadi bisa dibilang sebenernya saya nggak terlalu merasakan gimana hype nya gelaran piala dunia tahun ini. Dan baru pagi ini, saya nyadar kalau Matt Mueller itu cakep #abaikan. 

Akhirnya, tanggal 9 Juli.
Harapan saya, seperti harapan rakyat Indonesia lainnya, tentunya hasil pesta pemilu tahun ini akan menghadirkan pemimpin negara yang membawa kemaslahatan untuk rakyat Indonesia kebanyakan. Pemimpin yang dapat membawa Indonesia ke arah yang selalu dan selalu lebih baik. 

Tapi, saya juga punya harapan sendiri. Semoga, selepas 9 Juli ini, timeline saya jadi jauh lebih bersih. Lebih bersih dari postingan-postingan pemilu yang selalu menggoda buat jadi bahan omongan yang ujung-ujungnya ngerusak ibadah bulan puasa. Postingan-postingan pemilu yang kadang memaksa pengen komentar "Nih orang kok bego banget sih ngeshare berita ginian". Postingan-postingan pemilu yang.... kadang saya pertanyakan apakah orang yang ngeshare baca lengkap beritanya atau cuma baca judulnya. Postingan-postingan yang berkedok 'demi kepentingan dan kemaslahatan umat' yang sama aja intinya sih ngomongin orang-ngomongin orang juga.

Kamis, 03 Juli 2014

Tentang Lulus Tepat Waktu dan Satu Tahun yang Tertinggal

Waktu saya masuk Undip pertama kali, lulus cepat adalah target utama saya. Saya bertekad harus menyelesaikan kuliah dalam waktu 4 tahun, nggak boleh lebih. Tapi, apa yang saya rencanakan ya tinggal rencana.  Banyak orang yang bilang, dengan berkuliah, kita selangkah lebih dekat dengan dunia nyata, dunia kerja. Kebanyakan orang yang saya kenal memang sudah merencanakan kalau mereka bakal langsung bekerja setelah lulus kuliah, dan, kalau bisa, tentunya di perusahaan yang bonafid.

Singkatnya, karena kepergian saya ke Korsel tahun lalu, saya mesti mengulang beberapa mata kuliah berhubung mata kuliah tersebut nggak bisa di transfer. Saya sudah tahu resiko ini sejak awal saya mendaftar program pertukaran pelajar sampai akhirnya terpilih. Cuma, ternyata sensasi ‘mengulang’ itu baru kerasa sekarang. Waktu masuk kelas, nggak ada yang dikenal. Waktu kuliah kosong, jadi satu-satunya orang yang masuk kelas karena nggak dapat informasi… hal-hal seperti itu udah jadi makanan sehari-hari.

Minggu, 25 Mei 2014

For the Biggest Beatles Fans Whom I Have Ever Known

Ayah saya adalah seorang penggemar the Beatles. Die hard fans, istilahnya. Entah ada berapa puluh kaset yang berjejer rapi tanpa debu di rumah kami. Awalnya saya sempat heran kenapa ayah mau beli kaset yang sebegitu banyak. Bukan karena menurut ibu beli kaset itu buang-buang uang (dan tempat, because she had more plates to put!) tapi pada saat itu, tidak ada radio, tape atau barang-barang sejenis buat memutar kaset di rumah. Buat pajangan, barangkali?

  “Namanya juga ngefans.”

Butuh waktu sampai saya sedikit lebih besar sampai saya mengerti kalimat ini. Ngefans. Case closed.

Senin, 05 Mei 2014

Lost

“Hey, thank you.” She stops right after we passed the big gate in front of Fushimi Inari. “Kyoto was… really great. You know I had fallen for Kyoto from the beginning.”

“I know,”

As usual, a short answer that I always give to her. I hope a small nod will make a difference this time. The awkward atmosphere is lingering. She seems like she is looking for a question to ask, something that she always do when we are in a conversation. And I, just like usual, playing role as someone who is waiting to be asked.

Rabu, 30 April 2014

Tentang Sinetron yang Berasal dari Bintang

credit by Soompi

Belakangan ini, baik di facebook maupun twitter saya lagi topik yang lagi nge-hits adalah sinetron yang baru-baru ini ditayangkan oleh satu stasiun TV swasta, yang menjiplak drama Korea yang dibintangi oleh Kim Soo Hyun. Bukan rahasia umum sih, tapi stasiun TV ini memang sering banget kesandung masalah yang berhubungan sama penjiplakan sinteron. Bahkan untuk kasus yang satu ini, beritanya udah masuk soompi dan naver yang merupakan situs berita yang cukup ternama di Korea Selatan sana. Jadi begitu liat ada temen saya yang masih di Korea men-share berita penjiplakan yang ditulis di naver dengan bahasa Korea, agak gimana juga bacanya. Link berita soompi nya bisa buka di sini

Minggu, 13 April 2014

@IndoMengglobal




Banyak pelajar Indonesia yang punya keinginan untuk melanjutkan studinya ke luar negeri. Mulai dari motivasinya sekedar pengen jalan-jalan keluar negeri sampai yang benar-benar pengen membawa dampak yang baik bagi Indonesia setelah mereka pulang nanti. Akun bertajuk beasiswa memiliki ribuan follower, informasi tentang beasiswa luar negeri selalu direspon dengan cepat. Melihat antusiasme pelajar Indonesia yang mengejar pendidikan seperti ini, apa rasanya tidak bangga ?

Meskipun teknologi informasi sudah berkembang dengan pesat, sebagian orang mungkin belum paham betul bagaimana memanfaatkannya dengan maksimal. Di zaman yang bahkan ketika kita mengetik 'How to look like Ariana Grande" di kolom pencarian Google pun sudah memberikan sugestinya, masih ada orang-orang yang me-mention akun-akun beasiswa dengan pertanyaan "Minta beasiswa S1 Politik di Amerika".  You'd better place that question as Google's keywords, darling. Bahkan sebelum selesai mengetik 'beasiswa' dijamin Google sudah punya sugestinya. Ups, Ego Trap. 

So

Anybody knows about @IndoMengglobal ?

Sabtu, 12 April 2014

Ego Traps

This morning I saw my sister shared this photo on my timeline. This is deep. And I think many people should know it.




I'm trapped, sometimes. 

Tentang Bersyukur

Ibu saya menelepon hampir setiap hari. Seakan tidak mau ketinggalan dengan yang namanya teknologi, hampir setiap hari kedua orang yang amat saya kasihi itu memanfaatkan fasilitas Line dan layanan wi-fi di rumah. Saking seringnya menelepon, saya sampai hafal dengan pola pertanyaan ibu saya. 

Udah makan?

Makannya sama apa tadi ?

Oh, Ibu baru pulang kerja nih. Capek banget...

Ada kabar apa, Neng?

Kadang, karena pertanyaannya sama, saya suka malas-malasan jawabnya. Khususnya untuk pertanyaan yang terakhir, Ada kabar apa, Neng?

Senin, 31 Maret 2014

Post Holiday Syndrome

Hai!
Literally, ini adalah tulisan pertama saya setelah balik ke Indonesia. Sebenernya udah dari sekitar tiga bulan yang lalu saya meninggalkan tanah semenanjung Korea. Tapi entah kenapa, hati dan pikiran saya belum sepenuhnya 'menerima' kalau saya udah balik ke pangkuan ibu pertiwi #tsaah. 

Beberapa hal bikin saya susah move on dari petualangan saya di Korea. Tentu bukan cuma tentang Koreanya, tapi kurang etis rasanya kalau menceritakan itu di blog yang bisa dibaca sama semua orang. 

Sekarang, saya masih dalam proses adaptasi di negara sendiri. Saya ngerasa ada yang berubah sama diri saya, tapi saya sendiri nggak tahu yang berubah itu apa. Maka sekarang, yang saya lakukan adalah mengingat ngingat diri saya sebelum pergi ke Korea, rutinitas apa yang dulu saya lakukan dan lain sebagainya. Mengutip kata-katanya Trinity Traveler, yang ternyata adalah senior sama di FISIP Undip, mungkin yang saya alami sekarang itu namanya post holiday syndrome. 

Tapi post holiday syndrome nya lama banget ya...


Summer in Jeju-do, Day 1

Hai!

Tahun 2013 mungkin bisa dibilang adalah tahun yang paling memorable buat saya. Ngga usah tanya alasannya sih ya, hehe. Di tahun ini, akhirnya setelah mimpi untuk bisa pergi keluar negeri dari saya TK akhirnya bisa kesampaian. Dan di tahun 2013 ini, saya banyak ketemu hal-hal baru yang nggak saya temuin di tahun-tahun sebelumnya. Dan, saya bisa merasakan tinggal di negara empat musim, dan menikmati keempat musimnya! 

Salah satu hal 'pertama kali' yang saya dapatkan selama di Korea adalah, liburan musim panas!
Sepele sih ya, tapi di Indonesia kan ngga ada liburan musim panas gitu. Orang sepanjang tahun panas mulu gitu.  Adanya libur lebaran, sama libur semester. Jadi kalau ditanya "liburan apaan?" ya jawabnya cuma bisa "liburan pas lebaran" atau "liburan ntar deh Januari, pas ganti semester". Kan kesannya kurang keren gitu ya, dibanding "Nanti, pas liburan musim panas". Iya, maksa sih emang. 

Jadi, liburan musim panas pertama saya ini, saya pengen jalan-jalan ke tempat yang spesial! Meskipun di Korea sendiri udah spesial, tapi saya pengen liburan ini benar-benar jadi liburan. Dan, akhirnya, temen Argentina saya, Lucas, nemu tiket promo ke pulau Jeju. Tanpa pikir panjang, langsung kita booking lah tiket ke pulau Bali nya Korea Selatan itu. Total harga tiketnya, sekitar 70ribu won, buat perjalanan pulang pergi. Cuma, kalau saya dari Seoul ke Jeju terus pulangnya dari Jeju ke Busan. Sedangkan temen saya, Umi, langsung balik ke Seoul. Harganya hampir sama. Oh iya, kita pakai maskapai Jeju Air. 



Kalau ditanya Jeju kayak apa, saya cuma bisa bilang 'ngga kayak Korea'. Alamnya lebih mirip Indonesia, tentunya di tempat-tempat yang masih hijau dan asri ya. Sejauh mata memandang, selalu bisa ngeliat warna hijau dan biru. Mungkin kalau orang-orangnya ngga ngomong bahasa Korea dan huruf-hurufnya ngga pake Hangeul, ga berasa di Korea deh.

Kemaren saya nginep di daerah Seogwipo. Salah satu daerah yang katanya memang daerah turis di Jeju ini. Saya belum pernah ke Bali sih, tapi mungkin ini kayak daerah Denpasar gitu kali ya? Gatau deng. Yang jelas, banyak tempat wisata yang bisa dikunjungin di daerah Seogwipo ini. Dan, tempatnya cukup mudah dijangkau dari bandara Jeju nya sendiri yang terletak di Jeju-si. Tadinya saya sempet takut, karena kita nyampenya lumayan malem (sekitar jam 8 malem sih) dan di peta, kelihatannya Seogwipo sama Jeju-si itu jauh. Tapi ternyata bisa ditempuh dengan sekali naik bus nomer #600 (Limousine Bus) dan bisa nyampe Seogwipo dalam waktu satu jam. Ternyata pas saya perhatiin, bandara Jeju dan Seogwipo itu berada di satu garis lurus, jadi rutenya gaperlu muter-muter dulu.

Dalam bus perjalan menuju Seogwipo, kita melewati satu daerah resort mewah. Kalau ga salah, namanya Jungmun Resort. Ini adalah area hotel dan resort mewah di daerah Jeju. Dan yang namanya mewah, bener-bener mewah! Kayak istana pokoknya. Ngga kebayang semalemnya disana harus ngabisin uang berapa. Ada hotel punyanya Lotte, Shilla dan masih banyak lagi yang sama mewahnya. Dan semua hotel itu, masing-masing punya pemandangan yang menghadap langsung ke garis pantai Jungmun. Meskipun malem itu saya ga bisa liat apa-apa, tetep aja pencahayaan lampu resortnya bikin saya terkagum-kagum sama jajaran istana ini. 

ini di depan Lotte Hotel, diambil di lain hari 

Dari Seoul, saya berangkat bareng Lucas, Melissa dan Hernan yang mana ketiganya itu orang Argentina. Ada yang lucu sebelum berangkat. Saya kira, flight kita ke Jeju itu tanggal 23 Juni. Seminggu sebelum berangkat, Lucas ngasi tau kalau flight kita itu tanggal 22 Juni. Kaget lah saya, mana udah booking hostel. Ternyata bener, flight saya itu tanggal 22 Juni. Dan waktu itu, saya udah nggak bisa ngemodif booking hostel, yang artinya kita harus cari tempat nginep baru. Saya pun booking lagi hostel yang saya prediksi ngga jauh-jauh dari letak hostel yang saya booking sebelumnya. Untunglah, nemu. Nama hostelnya Kkodak-kkodak guesthouse. 

Hostelnya emang ngga bagus-bagus banget, tapi bersih. Dan cukup nyaman. Terus sopir taksinya juga langsung tahu letak Kkodak-kkodak ini. Ngga tau karena kebetulan sopir taksinya canggih atau emang terkenal ya. Akhirnya, dari bandara langsunglah kita menempati hostel bookingan kita di Kkodak-kkodak.

Guesthousenya sepi banget, saya kira malah cuma kita yang nginep. Jadi pas kita masuk lampu koridor hostelnya baru dinyalain gitu, keliatan banget kalau memang hostel itu belum ada penghuninya. Sempet serem sih awalnya, karena saya cuma berdua sama Umi, dan kita sama-sama cewek. Oh iya, temen-temen Argentina saya, lebih memilih buat camping entah dimana daripada nyewa hostel. Camping lebih murah sih, tapi kayaknya ya nggak lebih nyaman. Saya dan Umi memperhitungkan gimana nanti kita solat dan segala macemnya, jadi kita nggak ikutan camping segala. Ngga apa-apa deh keluar uang sedikit pas liburan, asal nyaman. Hehe.

Terus saya ngerasa bersalah udah negative thinking sama ahjussi penjaga hotelnya. Karena, awalnya kan kita booking kamar dormitory buat 4 orang. Eh, kita dikasih kamar yang buat dua orang, lengkap dengan kamar mandi, tv dan kipas angin di dalamnya. Sempet kepikiran juga sih buat nerusin nginep di Kkodak-kkodak, tapi kita ga mungkin ngecancel guesthouse yang sebelumnya saya booking juga. Dan, kita berasumsi, mungkin aja hostel kedua nanti (namanya Namguk Hostel) lebih bagus - karena lebih mahal juga.

Sampe kamar kita langsung istirahat, persiapan buat petualangan besok harinya. Untung di hari pertama ini kamarnya nyaman, jadi kita bisa beristirahat dengan nyaman...

Day 1

Paginya, kita beres-beres untuk pindah hostel. Ahjussinya bilang terus nginep disana aja... yang kita tolak dengan tatapan malu-malu. Would love too sih, pak, tapi... kita udah keduluan booking juga. Dan lagi, saya pikit salah satu kekurangannya Kkodak-kkodak guesthouse itu letaknya lumayan dari jalan utama, jadi agak susah buat cari taksi. Tapi untunglah, sang ahjussi yang baik hati ini mau nelepon taksi buat nganterin kita.

Sesampainya di Namguk Hostel, kita 'dikacangin' sama front officenya. Ngga ada orang. Ada kali 30 menitan kita nunggu sampe akhirnya ada mbak-mbak yang dateng dan ngelayanin kita. Waktu itu kan kita dateng sekitar jam 12, tapi itu belum waktunya check in karena di Namguk Hostel ternyata check in nya dimulai dari jam 3. Akhirnya kita pun minta izin buat numpang solat (dengan alasan mau ganti baju) dan titip koper. Setelah itu, baru deh kita jalan ke destinasi wisata yang ngga jauh dari hostel ini. Namanya, Cheonjiyeon Waterfalls.

Oh iya, sebelum itu, kita makan dulu. Sumpah, gak ada makanan yang saya kenal namanya. Sambil berharap itu nggak mengandung daging babi, akhirnya kita milih makanan yang paling murah. Side dishesnya dikasih buanyaaakkk banget, warna warni dan apik kalau di foto. Tapi makanannya.... nggak enak. Saya berasa kambing karena di dalem mangkok itu, isinya cuma berbagai macam sayuran. Tapi apa daya, daripada kelaperan, ya usah saya makan aja... Hiks. 

makanannya


Ngga tau sih kenapa air terjun ini begitu terkenal. Tapi, Umi bilang kayaknya itu air terjun yang alirannya langsung ngalir ke laut. Yaudah, excited kan saya. Kitapun berjalan kaki kesana, nggak terlalu jauh sih, tapi ya lumayan - apalagi saat itu saya pake sepatu yang salah (nyalahin sepatu!) 


salah sepatu -_-"


Pas nyampe sana, banyak banget turis asingnya. Terutama yang berbahasa Cina gitu. Kami beli tiketnya, terus foto-foto deh . Eh, kalau urusan foto-foto mah emang udah dari awal perjalanan sih. Hehe. Tapi, sesampainya saya di lokasi air terjunnya, saya cukup kecewa. Kenapa? Karena di Indonesia air terjun begitu mah banyak. Lebih bagus malah. Bedanya yaaa.... cuma air terjun yang ini letaknya di Korea aja. Jadi namanya juga ke Korea-koreaan. Cuma ya gapapa deh, pemandangannya bagus. Dan ngga ketinggalan, ada mitos kolam - yang mana kalau kita ngelempar koin dan masuk ke area yang ditentukan, nanti keinginannya bisa kekabul. Banyak banget deh tempat berlegenda kayak gitu. Di Cheonggyecheon stream juga ada. Saya jadi curiga, itu akal-akalannya pemerintah Korea aja biar banyak turis yang buang-buang koin disitu. Hehe.

Ini air terjunnya
  
Dari sana, kita melanjutkan perjalanan ke Jungmun beach. Saya dan Umi, yang sama-sama buta arah, langsung menuju tourist information terdekat buat nanya jalan tercepat ke Jungmun Beach. Oh iya, di Jeju-do, gausah khawatir, Tourist Information nya ada dimana-mana. Meskipun sempat tersesat dan tak tahu arah jalan pulan #tsaah kita puter arah dan nemuin bus stop yang dikasi tau sama mbak-mbak yang di Tourist Information tadi. Dari Cheonjiyeon waterfalls ke Jungmun Beach ini, kita cukup sekali kok naik Limousine Bus nomer 600 - seperti yang kita naikin dari bandara Jeju ke Seogwipo. Turunnya di Jungmun Resort, di depat Hyatt Hotel. Iya, bener, ga salah ketik kok. Beneran di Hyatt Hotel. Saya juga awkward gitu pas dateng kesana... masa turun bener-bener di depan hotelnya - yang langsung disambut para bellboy Korea yang kece-kece padahal kita bukan tamu disana. Tapi yaudah lah yah, dari websitenya emang ditulis begitu. Kita ikut aja.

pemandangan di sekitar jalan menuju halte bus nomer 600


Ternyata, di sampingnya Hyatt Hotel itu ada jalan setapak menuju pantainya. Seru deh, jadi kayak pantai tersembunyi gitu. Ngga terlalu jauh. Dan yang lebih seru, ternyata kita bisa jalan-jalan di taman belakang hotelnya yang keren banget. Disitu ada sejenis .... bangunan kecil - gatau itu gereja atau aula kecil - yang dijadiin tempat syutingnya Boys Before Flowers! Kyaaa!


tempat syuting BBF


Dan pas disitu, kita juga sempet ngeliat ada yang lagi nikahan. Pasti orang tajir deh, nikahannya aja di Hyatt Hotel Jeju. Pas kita liat, mereka punya banyak bodyguard gitu yang naik mobil van kayak punya artis. Dan yang lebih mengejutkan, mereka ngga ngomong pake bahasa Korea. Tapi pake bahasa Cina!

Nah, setelah puas foto-foto di area taman hotel, kita pun turun ke pantainya. Yak, jadi pantainya ada di bawah tebing gitu. Tenang, ada tangga yang cukup layak kok buat turun ke pantainya.

Pantainya.... ya, lumayan. Namanya juga pantai yah, dimana-mana sama. Ada pasir, ada air. Ada batu, ada ombak. Ada orang-orang main voli, ada orang jogging atau cari kerang. Tapi, cukup memakan waktu lah untuk foto-foto disini. Apa sih yang enggak difoto selagi liburan di pulau liburannya orang Korea? 

Keistimewaannya dari pantai ini adalah, ada kincir anginnya. Itu doang, satu, dan nggak muter. Tapi cukup cantik buat jadi objekan foto. Hehe.



Setelah puas jepret-jepret sana sini, saya dan Umi pun balik ke hostel untuk mempersiapkan perjalanan besok.