Rabu, 09 Juli 2014

May I Say, Pilpres Shows The Real You?

Akhirnya, 9 Juli lewat juga. Jerman membantai Brazil dengan skor yang entah-siapa-bisa-menduga - 7-1. Di kandang sendiri. Nggak, saya nggak mau ngomongin piala dunia kok. Saya beli jersey timnas Jepang, tapi nggak pernah nonton Jepang main sampai akhirnya tersingkir. Saya update berita tentang orang-orang yang melempari timnas Korea dengan toffee di bandara Incheon setelah mereka gagal tembus ke perdelapan final, tapi nggak sekalipun saya nonton pertandingannya timnas Korea. Pertandingan Jerman-Brazil ini adalah pertandingan pertama yang saya tonton pada gelaran piala dunia ini. Nontonnya pun pas skornya udah 5-0. Jadi bisa dibilang sebenernya saya nggak terlalu merasakan gimana hype nya gelaran piala dunia tahun ini. Dan baru pagi ini, saya nyadar kalau Matt Mueller itu cakep #abaikan. 

Akhirnya, tanggal 9 Juli.
Harapan saya, seperti harapan rakyat Indonesia lainnya, tentunya hasil pesta pemilu tahun ini akan menghadirkan pemimpin negara yang membawa kemaslahatan untuk rakyat Indonesia kebanyakan. Pemimpin yang dapat membawa Indonesia ke arah yang selalu dan selalu lebih baik. 

Tapi, saya juga punya harapan sendiri. Semoga, selepas 9 Juli ini, timeline saya jadi jauh lebih bersih. Lebih bersih dari postingan-postingan pemilu yang selalu menggoda buat jadi bahan omongan yang ujung-ujungnya ngerusak ibadah bulan puasa. Postingan-postingan pemilu yang kadang memaksa pengen komentar "Nih orang kok bego banget sih ngeshare berita ginian". Postingan-postingan pemilu yang.... kadang saya pertanyakan apakah orang yang ngeshare baca lengkap beritanya atau cuma baca judulnya. Postingan-postingan yang berkedok 'demi kepentingan dan kemaslahatan umat' yang sama aja intinya sih ngomongin orang-ngomongin orang juga.

Kamis, 03 Juli 2014

Tentang Lulus Tepat Waktu dan Satu Tahun yang Tertinggal

Waktu saya masuk Undip pertama kali, lulus cepat adalah target utama saya. Saya bertekad harus menyelesaikan kuliah dalam waktu 4 tahun, nggak boleh lebih. Tapi, apa yang saya rencanakan ya tinggal rencana.  Banyak orang yang bilang, dengan berkuliah, kita selangkah lebih dekat dengan dunia nyata, dunia kerja. Kebanyakan orang yang saya kenal memang sudah merencanakan kalau mereka bakal langsung bekerja setelah lulus kuliah, dan, kalau bisa, tentunya di perusahaan yang bonafid.

Singkatnya, karena kepergian saya ke Korsel tahun lalu, saya mesti mengulang beberapa mata kuliah berhubung mata kuliah tersebut nggak bisa di transfer. Saya sudah tahu resiko ini sejak awal saya mendaftar program pertukaran pelajar sampai akhirnya terpilih. Cuma, ternyata sensasi ‘mengulang’ itu baru kerasa sekarang. Waktu masuk kelas, nggak ada yang dikenal. Waktu kuliah kosong, jadi satu-satunya orang yang masuk kelas karena nggak dapat informasi… hal-hal seperti itu udah jadi makanan sehari-hari.