Senin, 15 Mei 2017

[Review] : Critical Eleven : In Between The Movie and The Novel


Ketika pertama kali dengar kalau Critical Eleven akan diangkat ke layar perak, saya langsung memasukkan film ini ke dalam wishlist 2017 ini. Selain saya suka banget sama novelnya, woro-woro dari si penulisnya, Ika Natassa, yang cukup intens di social medianya juga bikin geregetan abis. Tapi, at the same time, saya juga nggak mau berekspektasi terlalu tinggi. Dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, film apapun, mau sekelas Twilight sekalipun, seringkali kurang nendang begitu diangkat jadi film. Jadi, sebelum masuk studio, saya berusaha untuk santai-santai saja. 

Film ini dimulai dengan apik. Belum apa-apa saya sudah dibuat tersipu-sipu sama percakapan antara Ale dan Anya di pesawat, tempat dimana mereka bertemu. Di novel, kak Ika mengandalkan narasi untuk menggambarkan isi hati tokoh-tokohnya, itu juga yang menurut saya kekuatan dari novel-novelnya kak Ika, so the reader can feel the engagement with the book in their own way. Di novelnya, pembaca bisa tahu bagaimana isi hati dan jalan pemikiran tokoh-tokohnya. Isi hati dan jalan pemikiran tokoh ini yang nantinya menjadi dasar tindakan apa yang akan dilakukan si tokoh. Jadi pembaca bisa mengerti kenapa si Ale melakukan A, karena menurut pikiran dia A, kenapa si Anya melakukan B, karena menurut pikiran Anya ya B. 

Jumat, 12 Mei 2017

Al-Quran, Penistaan dan Cinta




Pertama, saya tidak mau berdebat tentang kasus penistaan agama. Iya, saya setuju jika apa yang dikatakan pak Ahok tentang surat Al-Maidah itu salah, beliau sudah bicara di luar kapasitasnya, dan apa yang beliau katakan itu menyakiti umat Islam. Adalah wajar buat umat Islam yang tersakiti hatinya karena kitab sucinya dihina untuk turun ke jalan, melakukan aksi-aksi yang melambangkan bagaimana kecintaan umat Islam terhadap Alquran dan meminta keadilan untuk sang pelaku. Jika memang pak Ahok akhirnya harus mendekam di hotel prodeo selama dua tahun, saya juga tidak mau mendebat ini.  Pak Ahok melakukan kesalahan, pak Ahok diputuskan bersalah dan dijatuhi hukuman – what’s done is done.  

Saya juga tidak bermaksud menyangkal kesalahan yang dilakukan pak Ahok. Pembahasan saya tentang penistaan agama berhenti pada paragraph pertama dari tulisan ini. Tulisan ini hanya bentuk keprihatinan, bagaimana seorang manusia bisa begitu jahat pada manusia lain. Bagaimana mudahnya manusia untuk merasa lebih tinggi, dari manusia lain tanpa Ia sadari.