Senin, 20 Februari 2017

[Fiction] - Satu Hari di Musim Gugur



Kau sudah sampai? Maaf, aku sepertinya terlambat. Tapi mungkin tidak terlalu lama. Tunggu ya. Maaf.

Kursi itu kosong. Kursi dengan serat kain pelapis berwarna biru laut yang telah kuhafal diluar kepala polanya. Kursi yang terletak di belakang setangkai bunga lili hitam yang selalu kuacuhkan keberadaannya, berapa kalipun aku meminta seseorang untuk meletakkannya disana. Kursi dengan pemandangan danpung – daun-daun yang memerah -  pada musim gugur Seoul yang indah di balik jendela. 

Sesekali aku melirik arloji di tanganku, sesekali melirik goguma latte berwarna keunguan yang kini mulai mendingin tanpa pernah kusentuh, tapi tak lama. Busa susu yang menghiasi permukaan latter itu berbentuk daun maple khas musim gugur, dengan enam ruas jari yang sudah kuhafal diluar kepala. Aku menunggu sudah lama. Aku bahkan menolak untuk mengecek sudah berapa lama aku duduk disini. Menatap kursi kosong, momiji, dan latte dihadapanku berganti-gantian. Tapi kursi di hadapanku entah bagaimana merebut perhatianku paling banyak dengan mudahnya. Seharusnya ada seseorang disana. Seseorang yang berjanji akan tiba sejak satu jam yang lalu. Satu menit, dua menit, tiga menit, aku mengatur posisi dudukku. Empat menit, lima menit, enam menit, aku menukar tangan yang kupakai untuk menopang daguku. Gusar, kuambil ponselku. 

Maaf ya, kau ingat Pak Kim kan? Bos-ku? Tiba-tiba dia memberiku setumpuk dokumen. Aku pasti datang, tunggu ya. 

Aku melengos kesamping. Berulangkali mambaca pesan yang masuk darimu. 


Daun-daun momiji itu bergerak, seolah menari mengikuti irama kemana angin membawanya. Aku suka musim gugur. Kamu tahu itu pemandangan itu, pemandangan daun maple berwarna kemerahan itu, adalah favoritku. Kamu tahu itu adalah alasan kenapa meja ini menjadi kesukaanku. Tapi dibandingkan semua itu, kau paling tahu, alasan utama aku begitu menyukai musim gugur diantara semua musim adalah, karena hari ulangtahunku ada di musim gugur. Kamu tahu. 

Dari segala hal yang kau tahu tentangku, aku berharap kamu mengetahui dan selalu mengingat satu hal. Aku, paling benci menunggu. Dan aku, benci kamu yang selalu membuatku menunggu. 

Sebentar ya, Pak Kim berulah. Aku sudah mau keluar kantor tapi… ah, pokoknya tunggu aku!

Aku menatap layar ponsel, menatap ke arah pesan yang kau kirimkan. Kemudian aku meletakkannya di sebelah sweet potato latte ku. Berapa kali harus kuingatkan padamu, kalau membuat wanita menunggu itu tidak sopan? Kalau bilang bertemu jam empat, ya jam empat! 

Hari ini Pak Kim. Kemarin Pak Park. Kemarinnya lagi Pak Choi. Kemarinnya kemarin kemarin lagi Kagawa-san, bosmu yang katanya dari Jepang itu. Sebenarnya ada berapa banyak sih, kambing hitammu? Kamu tahu, aku sering curiga kalau kamu punya satu daftar panjang berisi nama-nama orang dikantormu yang bisa kau gunakan sebagai salah satu kambingmu. Tidak usah heran bagaimana aku bisa tahu. Aku bahkan curiga apakah orang yang bernama Pak Choi dan Kagawa-san itu memang benar-benar ada atau tidak. Aku tahu sebenarnya Pak Kim tidak ada disampingmu. Kepercayaanmu padamu sudah hilang semenjak dulu kau pernah bilang kalau Pak Kim memberimu pekerjaan mendadak, padahal hari itu kita sudah ada janji mengunjungi aquarium. Kemudian aku merubah rencana, pergi ke apartemenmu, berniat menyiapkan kejutan dengan membereskan kamarmu, dan menyiapkan bulgogi kesukaanmu, sebuah kencan di apartemenmu yang sederhana. Aku berekspektasi mengenai kamar apartemenmu yang berantakan. Tapi yang kulihat pertama kali di apartemenmu adalah kamu, pulas tertidur di balik selimutmu. Kemudian kamu mengaku, sebenarnya tidak ada pekerjaan dari Pak Kim, hanya saja, hari ini kamu merasa kamu ingin tidur seharian.  Aku tahu kalau sekarang, sebenarnya kau masih menunggu bus di dekat apartemenmu, karena kau baru baru bangun setengah jam yang lalu, kan?

Sudah berapa kali kubilang kalau janjian jam empat, itu artinya sudah tiba di lokasi jam empat?
Bukannya baru berangkat dari rumah jam empat!

Aku akhirnya mengaduk-aduk latte ku gusar, merusak gambar daun maple yang dibuat barista itu dengan busa susu. Ini sudah jam lima, asal kau tahu. Aku men-scroll layar ponselku, melihat pesan kedua yang kau kirimkan.

Jangan marah, ya. Kali ini benar-benar tidak bisa ditolong. Pak Kim…

Oh, bagus, sekarang kau menyuruhku supaya tidak marah padamu?

Asal kamu tahu, kekesalanku sudah sampai ubun-ubun. Ini bukan tentang kamu yang datang terlambat. Tapi kamu yang selalu datang terlambat. Tidak pernahkah kamu menyediakan sedikit saja waktu untuk bersiap-siap dan menemuiku tepat waktu? Jangankan janji bertemu. Janji telepon saja sukanya terlambat. Kalau sudah tidak di rumah, bukan Pak Kim lagi yang jadi kambing hitamnya. Kalau kau sudah di rumah, semuanya tentang game. Tentang acara televisi. Tentang komik. Terkadang aku mengasihani diriku sendiri. Bagaimana bisa aku cemburu pada game robot yang ada di ponselmu, atau pada Im Yoona di liputan SNSD di layar kacamu? Jadwal telepon yang tadinya direncanakan jam delapan bisa mundur ke jam sembilan. Atau ke jam sepuluh. Atau ke jam dua belas. Atau rencana telepon itu hanya berujung menjadi catatan panggilan tak terangkat di teleponku karena aku sudah lelah menunggu.

Kenapa kau tidak membalas pesanku? Kamu marah ya? Maaf, ini benar-benar tidak bisa tertolong. Tapi aku akan sampai lima menit lagi. Jadi mohon sabar ya. Maafkan aku.

Aku menghela nafas, memohon, hari ini saja. Di tahun 2013 ini, di hari ulangtahunku yang ke dua puluh enam ini, aku mohon jangan nomor duakan aku. Jangan nomor duakan aku dengan Pak Kim mu. Jangan nomor duakan aku dengan komik, game, dan acara-acara televisi favoritku. Tidak, aku tidak mengharapkan kamu akan tiba-tiba datang dan memberikan sebuah cincin dan melamarku sebagai hadiah ulangtahunku. Bukan itu yang aku butuhkan. Aku hanya butuh kamu, disini, tepat waktu. Itu saja.

Bagimu mungkin sepele. Kamu dan keterlambatanmu, terkadang membuatku bertanya-tanya. Apakah kau serius kepadaku? Apakah kau pernah benar-benar menyisihkan waktumu, untukku? Apakah kamu, pernah, sekali saja, menomorsatukanku disbanding hal-hal yang lebih menarik perhatianmu.
Dan kau tahu? Ini hari spesialku. Ini hari ulangtahunku. Tidak bisa?
Aku sudah di bus menuju kesana. Tunggu ya, 10 menit 10 menit!

Alasan.

--

“Maaf, kami sudah mau tutup.” 

Suara pelayan itu mengagetkanku. Entah sejak kapan, beralaskan meja, aku tertidur. Setengah sadar, aku menatap wajah pelayan itu. Lalu kualihkan pandanganku pada kursi dihadapanku. 

Kursi itu masih kosong.  Dan aku masih hafal pola kain yang terukir di pelapis biru kursi itu. Sudah berapa lama ya aku tertidur? Dan kamu…. Mana? Katanya sepuluh menit….

“Ah, maaf,” ujarku pada sang pelayan.  Pelayan itu, pelayan dengan wajah tak asing itu, memberiku senyuman prihatin yang lembut. 

Aku membetulkan posisi dudukku, memberikan isyarat pada pelayan tersebut untuk mengangkat cangkir latte yang bahkan belum setengahnya kuminum. Dengan sigap, ia mengangkat cangkir putih itu ke nampannya, berhati-hati agar cangkir itu tidak terjatuh padaku.

“Dia tidak akan datang,” pelayan itu berujar dengan suaranya yang lemah. Pandangannya tertuju pada nampan yang sedang dipegangnya. “Bukankah ini… sudah tiga tahun?” Pelayan itu berujar hati-hati.

Tiga tahun?

Aku menatap pelayan itu bingung. Aku pasti masih berada di alam perbatasan sadar dan tidak sadar. Kamu bilang, 10 menit lagi kan?

Aku mengeluarkan ponselku, mengecek jam. Saat layar ponsel menyala, layarnya tepat memamerkan pesan darimu. Bagian kanan atas layar menunjukkan pukul  9 malam. Aku men-scroll ke bawah pesan darimu. 

Terakhir kali, kamu mengirimkan pesan pada jam 5.25. 

Tiga tahun yang lalu.

Sekelibat memori menghantam kepalaku secara bertubi-tubi. Memori tentang bagaimana aku keluar dari kafe, hanya untuk melihat orang-orang mengerumunimu. Mengerumuni tubuhmu di pinggir jalan, bersimbah darah. Aku tak tahu apa yang sebelumnya terjadi kepadamu, dan kenapa kau tidak kunjung membuka kelopak matamu. Kepalaku pusing, mataku kian gelap. Dari sudut mataku, aku bisa melihat kotak velvet kemerahan yang menyembul dari saku formal suit yang kaukenakan, yang kini sudah bernoda darah di beberapa bagian. Sebuah kotak cincin. 

Memoriku berhenti disitu.
-
Ini rahasia, mungkin cuma aku dan pelayan kafe ini yang tahu. Setahun sekali, di hari yang sama, di jalan yang sama, aku pergi ke tempat yang sama. Berharap bahwa kali ini, endingnya akan berbeda.
Berharap kamu akan muncul dari balik pintu, dengan senyum canggungmu yang membuatku jatuh cinta. Lalu aku membalas senyummu, lalu kau akan bercerita tentang bagaimana Pak Kim menahanmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar