Senin, 28 Desember 2015

Movie Review : Sunshine Becomes You

Libur natal kemarin, saya dan mas pacar menyempatkan diri untuk nonton filmnya Nabilah JKT48 yang judulnya Sunshine Becomes You. Sebelum nonton, saya berulangkali tanya sama mas pacar bener apa enggak dia mau nonton film model beginian karena selera mas pacar biasanya Iron Man, atau 007 dan teman-temannya lah. Tapi, beruntunglah saya punya mas pacar yang baik hati, penyabar dan penyayang, dia mau nemenin saya nonton film ini meskipun sebenernya ada film-film lain yang worth it untuk ditonton dan sesuai seleranya dia, Starwars misalnya.


Wonder why they didn't use brighter/shinier tone in the poster while the title is about Sunshine, not about gloomy season

So, here it is, review dari film Sunshine Becomes You yang kemarin saya tonton:

Kalau ditanya apa yang menarik saya untuk nonton film ini, pertama adalah karena novelnya. Seperti novel-novelnya Ilana Tan yang lain, novel ini juga beautifully written. Memang novel ini terkesan tidak segreget novel-novel Ilana Tan sebelumnya yang tentang musim-musiman itu. Novel Ilana Tan selalu mengingatkan saya sama tulisan-tulisan penulis handal dari dunia fanfiction Korea. Saya dan temen saya, Sasa, yang tulisannya bagus itu, curiga kalau Ilana Tan ini sebenarnya penulis fanfiction juga. Apalagi kalau baca karyanya yang Summer in Seoul. 

Senin, 29 Juni 2015

Book Review : Norwegian Wood by Haruki Murakami

Beberapa hari yang lalu, saya baru saja menamatkan salah satu buku yang sudah jadi wishlist bacaan saya sejak lama. Judulnya Norwegian Wood. Penulisnya, Haruki Murakami. 
Seperti yang saya bilang sebelumnya, ini adalah kali pertama saya baca bukunya Murakami. Awalnya saya cuma dengar-dengar saja tentang nama besar Murakami sebagai novelis Jepang yang karyanya sudah dinikmati di seluruh dunia. Oh iya, saya juga sempat dengar tentang Murakami, sebagai penulis Jepang, dengan setting novel yang rata-rata di Jepang, tapi seringkali mengangkat isu yang kebarat-baratan.

Saya langsung jatuh cinta sama Norwegian Wood!




Sabtu, 06 Juni 2015

Senbatsu Sounsenkyo, AKB48 dan Selintas Mengenai Customer Engagement

source: http://magikowonderland.blogspot.com/


Setiap tahun, 48 Group memiliki perhelatan akbar yang dinamakan Senbatsu Sousenkyo. Senbatsu artinya member-member pilihan. Dan Sounsenkyo, artinya pemilihan. Meskipun menyandang angka 48, bukan berarti jumlah anggota 48Group ini ada 48 orang, meskipun tetap saja jumlah 48 orang itu lumayan ‘aneh’ kalau bicara tentang jumlah anggota sebuah grup musik yang mungkin paling banyak hanya beranggotakan belasan orang. Ada lebih dari 300 gadis yang menjadi anggota idol group ini, dan mereka semua adalah member aktif!

Sabtu, 16 Agustus 2014

Meanwhile on the Train

There's a lot of things, like, 'lots' on the last few months of my life. 

I've been started my internship since about two weeks ago, in an advertising company that I enjoy very much. Perusahaan Jepang, perusahaan yang besar, perusahan yang sudah saya incar dari dulu. Saya kira, dua bulan magang bakal jadi hal yang membosankan. Cerita-cerita temen tentang di tempat magang yang kerjaannya cuma lomba 'lama-lamaan' di kantor, fortunatelly, nggak terjadi sama saya. Saya memang baru magang dua minggu, tapi saya dapat pengalaman yang nggak terhingga. Now I understand why the internship experience will be really, like really beneficial if I go to work later. 

Saya bukan cuma merasakan senangnya bisa berkontribusi untuk satu perusahaan, bertukar pikiran sama supervisor saya yang masih muda tapi berwawasan luas, gimana 'bangganya' waktu supervisor bilang "Untung kamu ngasih tau.." or things like that. Hal-hal seperti itu kayaknya nggak ada kata-kata yang cukup untuk menggambarkannya. That was kind of feeling that if you haven't experienced it, you will never know. Or the time when I got my first paycheck, I was very very happy. Setelah berhari-hari berdesak-desakan sama orang-orang di kereta, bingung sama hingar-bingar ibu kota, mendapat gaji dari hasil keringat sendiri rasanya nggak bisa digambarkan dengan kata-kata. Jumlahnya memang nggak besar. Tapi uang itu, bertahan beberapa minggu di dompet saya. Masih dalam posisi ter-hekter dengan baik. Sayapun lama menimbang-nimbang untuk apa uang itu mau saya pake. Beli sepatu.... beli baju... atau beli apa ya? But I ended up giving the money to my parent. A friend of mine, who is really really wise, was giving me such a wonderful advice. Gaji pertama, bukan hal yang bakal saya dapatkan setiap bulannya kan? Sepatu, baju, atau hal-hal yang saya pengen beli bisa menunggu. Tapi saya pengen gaji pertama ini jadi spesial.

Kamis, 03 Juli 2014

Tentang Lulus Tepat Waktu dan Satu Tahun yang Tertinggal

Waktu saya masuk Undip pertama kali, lulus cepat adalah target utama saya. Saya bertekad harus menyelesaikan kuliah dalam waktu 4 tahun, nggak boleh lebih. Tapi, apa yang saya rencanakan ya tinggal rencana.  Banyak orang yang bilang, dengan berkuliah, kita selangkah lebih dekat dengan dunia nyata, dunia kerja. Kebanyakan orang yang saya kenal memang sudah merencanakan kalau mereka bakal langsung bekerja setelah lulus kuliah, dan, kalau bisa, tentunya di perusahaan yang bonafid.

Singkatnya, karena kepergian saya ke Korsel tahun lalu, saya mesti mengulang beberapa mata kuliah berhubung mata kuliah tersebut nggak bisa di transfer. Saya sudah tahu resiko ini sejak awal saya mendaftar program pertukaran pelajar sampai akhirnya terpilih. Cuma, ternyata sensasi ‘mengulang’ itu baru kerasa sekarang. Waktu masuk kelas, nggak ada yang dikenal. Waktu kuliah kosong, jadi satu-satunya orang yang masuk kelas karena nggak dapat informasi… hal-hal seperti itu udah jadi makanan sehari-hari.

Minggu, 25 Mei 2014

For the Biggest Beatles Fans Whom I Have Ever Known

Ayah saya adalah seorang penggemar the Beatles. Die hard fans, istilahnya. Entah ada berapa puluh kaset yang berjejer rapi tanpa debu di rumah kami. Awalnya saya sempat heran kenapa ayah mau beli kaset yang sebegitu banyak. Bukan karena menurut ibu beli kaset itu buang-buang uang (dan tempat, because she had more plates to put!) tapi pada saat itu, tidak ada radio, tape atau barang-barang sejenis buat memutar kaset di rumah. Buat pajangan, barangkali?

  “Namanya juga ngefans.”

Butuh waktu sampai saya sedikit lebih besar sampai saya mengerti kalimat ini. Ngefans. Case closed.

Senin, 05 Mei 2014

Lost

“Hey, thank you.” She stops right after we passed the big gate in front of Fushimi Inari. “Kyoto was… really great. You know I had fallen for Kyoto from the beginning.”

“I know,”

As usual, a short answer that I always give to her. I hope a small nod will make a difference this time. The awkward atmosphere is lingering. She seems like she is looking for a question to ask, something that she always do when we are in a conversation. And I, just like usual, playing role as someone who is waiting to be asked.