Tampilkan postingan dengan label kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 April 2017

[Exchange Student Life] - Chuncheon Family

The first time I got the news of I go a chance to live in Korea, I was overwhelmed by the joy. It was difficult not to, I've been dreaming of living abroad since I was in elementary school and it was just a step away!

It was true that I was almost devastated waiting the acceptance announcement from the university and the scholarship back then. The university acceptance announcement was quick, but the scholarship wasn't. Back then, if I didn't get the scholarship, I wouldn't take the offer. Studying abroad with self-funding had never been any option for me, and my family of course. Finally, the scholarship announcement released about 1,5 months later, I was about to scream joyfully if I were not in the office. I was on my internship back then. 



[Exchange Student Life] - Dormitory Life

Chuncheon city, is the capital of Gangwon province, South Korea.

When I was about to write my address in Korean, I would wrote it as Gangwon-do (Do to point the province), Chuncheon-si (Si means City) in Kangwon Daehak-gil, Gil means road, Hyoja-dong (Dong means street). This is where my university, Kangwon National University located at. In Korea, if you want to write a mailing address it has to be started with the largest area, in this case, write the province first, the city next, the road name after that, then the street. It is different with the way I write my mailing address in Indonesia, which is started by the street name.

We called our university with Kangdae, as a short version of Kangwon Daehakyo which means Kangwon University. If it is translated to English, name of this university will be Kangwon National University - not just Kangwon University. If the university name is translated to English, the 'National' can be used to figure if the university belongs to the government or a private organization. You can see, because the university name is slightly simpler for Korean, the Koreans have to memorize of at least do a wee bit of research to find out to whom the school is belong to.

That statue, Kangdae pride!

[Exchange Student Life] - Life of a Student

Back then when I had a chance to visit Japan in 2014, the mighty sakura hadn't bloomed yet. It seemed like I miscalculated the date, since flocks of tourist will flood Japan at around April or May to witness the glorious Sakura, but it wasn't.  I didn't want to miss my class on my first semester after I returned back for good from Korea, so flew to Japan before my semester was started. 😒

Just because Sakura is incredibly popular in Japan, so most people (or was it just me?) placing Japan and Sakura in a complementary term. I thought that Sakura is only existed in Japan, that's how it become famous, because you can only meet them in Japan. But I was wrong. Spring in Korea, taught me that Sakura is also exist in Korea in the name of blossom. They have a different name, of course. We called it Potkot in Korean. My American teacher, called that flower 'cherry blossom'. From that time, I stopped calling that type of flower with Sakura, and calling it with cherry blossom instead. It's like you meet a Jasmine in some western country and you call it 'Melati' in Indonesia. Same type, different name.

Sakura in Japan, Potkot in Korea, Cherry Blossom in... all over the world?
But wait, I'm not completely wrong, right? Evidently you can meet Sakura only in Japan. If you meet that flower in Korea, you won't call it Sakura, but Potkot instead 😝😝😝

Kamis, 13 April 2017

[Exchange Student Life] - Late Winter Arrival

As the spring has begun, my instagram timeline was filled by photos with cherry blossom background of my friends who are currently studying abroad or just traveling to hunt the cherry blossom peak season. This somehow, brought back my memories about the spring I had in 2013 when I was in South Korea.

 
Magnolia
To think about it, I think I haven't written enough about my experience in South Korea, have I? I was so productive into writing in 2012, mostly in fanfiction, which I had stopped writing it since I arrived in South Korea. At first I was thinking that I would be super productive once I arrived in the land where my muse (back then he is Super Junior Kyuhyun) lives but it wasn't. I was so mesmerized that finally, and finally, I was abroad, and somehow my writing appetite was going numb.

When I arrived, it was late winter. It was the early of March in 2013. The weather was super cold. I was freezing. At the first step I took when I went out from the Incheon Airport, I said "Somebody please turn off the AC!" Little did I know, it was the real weather of a winter. It was the first winter that I experienced, anyway. The cherry blossom, or in Korea it is called Potkot - hadn't bloomed yet.


Kamis, 03 Juli 2014

Tentang Lulus Tepat Waktu dan Satu Tahun yang Tertinggal

Waktu saya masuk Undip pertama kali, lulus cepat adalah target utama saya. Saya bertekad harus menyelesaikan kuliah dalam waktu 4 tahun, nggak boleh lebih. Tapi, apa yang saya rencanakan ya tinggal rencana.  Banyak orang yang bilang, dengan berkuliah, kita selangkah lebih dekat dengan dunia nyata, dunia kerja. Kebanyakan orang yang saya kenal memang sudah merencanakan kalau mereka bakal langsung bekerja setelah lulus kuliah, dan, kalau bisa, tentunya di perusahaan yang bonafid.

Singkatnya, karena kepergian saya ke Korsel tahun lalu, saya mesti mengulang beberapa mata kuliah berhubung mata kuliah tersebut nggak bisa di transfer. Saya sudah tahu resiko ini sejak awal saya mendaftar program pertukaran pelajar sampai akhirnya terpilih. Cuma, ternyata sensasi ‘mengulang’ itu baru kerasa sekarang. Waktu masuk kelas, nggak ada yang dikenal. Waktu kuliah kosong, jadi satu-satunya orang yang masuk kelas karena nggak dapat informasi… hal-hal seperti itu udah jadi makanan sehari-hari.

Minggu, 13 April 2014

@IndoMengglobal




Banyak pelajar Indonesia yang punya keinginan untuk melanjutkan studinya ke luar negeri. Mulai dari motivasinya sekedar pengen jalan-jalan keluar negeri sampai yang benar-benar pengen membawa dampak yang baik bagi Indonesia setelah mereka pulang nanti. Akun bertajuk beasiswa memiliki ribuan follower, informasi tentang beasiswa luar negeri selalu direspon dengan cepat. Melihat antusiasme pelajar Indonesia yang mengejar pendidikan seperti ini, apa rasanya tidak bangga ?

Meskipun teknologi informasi sudah berkembang dengan pesat, sebagian orang mungkin belum paham betul bagaimana memanfaatkannya dengan maksimal. Di zaman yang bahkan ketika kita mengetik 'How to look like Ariana Grande" di kolom pencarian Google pun sudah memberikan sugestinya, masih ada orang-orang yang me-mention akun-akun beasiswa dengan pertanyaan "Minta beasiswa S1 Politik di Amerika".  You'd better place that question as Google's keywords, darling. Bahkan sebelum selesai mengetik 'beasiswa' dijamin Google sudah punya sugestinya. Ups, Ego Trap. 

So

Anybody knows about @IndoMengglobal ?

Rabu, 21 Agustus 2013

Mari belajar KRS an di Korea!

Halo! Ketemu lagi sama saya.
Iya, saya. Masa sih lupa. Ah suka begitu.

Jadi, beberapa hari belakangan ini, saya lagi sibuk. Sibuk ngapain? Sibuk nonton Good Doctor. Ngga deng, bohong. Tapi ngga bohong-bohong amat sih, soalnya emang lagi ngikutin serial itu juga. Bagus banget jalan ceritanya meskipun... stop stop, cerita Good Doctor nya nanti aja ya. Jadi, kesibukan saya dua hari ini adalah lagi μˆ˜κ°•μ‹ μ²­ atau dibaca Soogang Sincheong. Apaan tuh soogang sincheong? Kalau diterjemahin, jujur aja saya gak tau. Tapi kalau di Indonesia, ini biasa disebut dengan KRS-an. Alias Kartu Rencana Studi-an. Jadi kayak milih-milih mata kuliah yang buat diambil semester depan gitu.

Waktu soogang sincheong  tampilan website KNU jadi begini..


Kebetulan waktu pertama saya dateng saya di soogang sincheong-in sama Buddy saya. Eh, apa sih itu buddy? Jadi buddy itu, bukan orang yang namanya Budi tapi mau ditulis sok bule. Kayak di film-film bule gitu, buddy kan artinya temen. Pernah denger kan orang bule kalau manggil ke temennya "Hi, Buddy!" nah iya itu sebelas dua belas lah sama itu. Meskipun jujur entah kenapa kata "Hi, buddy" mengingatkan gue sama anjing Golden Retriever yang lucu yang bisa main bola. Yak, jangan salahkan bunda mengandung. Salahkan saja sutradaranya film Airbud yang dulu rutin ditayangin tiap liburan. Skip. Jadi buddy ini lah yang bertugas nemenin saya dan ngajarin saya ini itu tentanng kehidupan kampus maupun hidup di Korea yang cukup beda jauh sama hidup di Indonesia. 

Ttalgi bingsu supergede dari Juri unnie

Nah, disini saya punya buddy yang namanya Jeong Juri. Dia pertama ngontak saya gak lama setelah saya nerima pengumuman kalau saya keterima di KNU ini lewat email. Ya, dia ngasih tau gitu kalau disini saya harus beli blanket harganya sekitar 30 dollar, terus bikin surat keterangan sehat yang harganya sekitar 10 dollar. Dia juga yang nganterin saya ke asrama, ngambil sprei sama kunci asrama sampai dia milihin kelas saya buat Spring semester kemaren. Karena kemaren pas dateng waktu soogang sincheong normalnya udah lewat, jadilah kita harus daftar manual ke masing-masing fakultas tempat kelas yang saya mau. Oh iya, dia juga yang beliin saya ttalgi bingsu alias bingsu stroberi yang porsinya gede banget buat pertama kali. Terus kita komunikasinya pake bahasa apa? Bahasa Inggris. Soalnya bahasa Inggrisnya Juri unnie ini bagus, secara dia juga pernah exchange ke Amerika. Kalau buddy-buddy yang lain gimana? Kalau yang lain sih harusnya pake bahasa Inggris. Tapi kalau kemampuan bahasa Korea mahasiswa exchange nya udah bagus sih nggak jarang mereka pake bahasa Korea. Kayak temen Jepang saya, Moe, yang berkomunikasi sama buddynya pake bahasa Korea. Malah kadangan bahasa Jepang karena buddy nya dia belajar bahasa Jepang gitu..

Khusus buat semester ini, saya harus nge-soogang sincheong sendiri. Soalnya sejak beberapa bulan yang lalu, Juri unnie ini keterima kerja gitu jadi dia ngga usah dateng lagi ke kampus. Saya juga nggak ngerti sih mekanisme lulusnya disini tuh gimana. Sependengaran saya dari Juri unnie itu, dia kemaren ikut wawancara kerja terus diterima. Nah, pas dia udah keterima dia langsung ngehubungin saya gitu.

"Hi! I got the job! So I don't need to go to school anymore!" 

...

Saya juga gak ngerti sih maksudnya gimana. Saya bingung gitu pas nerima Kakaotalk nya itu. Lah, berarti idup saya disini gimana dong... Ntar semester depan gimana dong.... Yah gitu deh, problem kayak gitu sih bukan satu dua kali terjadi di sini. Meanwhile ada buddy yang sangat bertanggung jawab kayak buddy nya Moe (Namanya Ingeon oppa. Gak cuma ngurusin ini itu, tapi dia juga sering ngajak kita jalan kesana kemari!) dan ada juga buddy yang lepas tanggung jawab sama sekali. Padahal mereka dibayar lho, cukup lah buat jajan satu bulan jumlahnya. Misalnya kayak buddynya roommate saya pas liburan ini... ngilang sama sekali. Kalau kata ibu saya mah, sabedug sakali. Bedug aja masih mending sehari lima kali bunyi. Lah ini...

Terus gimana saya ber-soogang sincheong semester ini? 
Sekitar seminggu yang lalu, ada rentang waktu yang namanya μ˜ˆλΉ„μˆ˜κ°•μ‹ μ²­ atau dibaca Yebi Soogang Sincheong. Sejenis pre registration gitu. Yebi itu mungkin singkata dari Yeyak bi alias waktu pemesana. Mesan apa? Es campur? Bukan. Mesen kelas dong. 

Seperti yang udah kita ketahuin kalau internet di Korea itu cepet banget kan. Bisa nyampe 59Mbps kecepatannya. Nah, biar murid-muridnya nggak bingung milih kelas sambil kejar-kejaran sama siswa lain yang koneksinya sama-sama cepet, makanya mereka diizini buat mesen kelas-kelas dulu. Kelas-kelas ini nantinya bakal tersimpan di akun masing-masing siswa.  Biar nanti pas waktu Soogang sincheong nya mereka tinggal memilih atau membatalkan kelas-kelas yang udah dipesen itu. 

Yang atas itu keiisi pas yebi yang bawah itu mata kuliah yang udah dipilih
Kemaren, atas bantuan buddy nya Moe, saya udah nge-yebi empat kelas. Termasuk mata kuliah screen english. Oiya, berhubung bahasa Korea saya masih belum lancar, saya milih kelas-kelas yang di conduct dalam bahasa Inggris. Gimana cara milihnya? Milihnya di mata kuliah yang dikasih keterangan dalam kurung (μ™Έκ΅­μ–΄κ°•μ˜) alias Wegugo kang-eui. Sekedar info, kalau nemu hangul model begini " μ™Έκ΅­" itu dibacanya weguk yang artinya asing. Kalau di Indonesia orang asing biasa dipanggil bule, disini dipanggilnya 외ꡭ인 atau wegugin alias orang asing. Setelah di yebi-in sama buddy nya Moe, saya agak ga puas gitu. Soalnya mata kuliah Screen English nya itu di conduct  dalam bahasa Korea meskipun film yang mereka tonton nantinya itu film-film Hollywood. Oh iya, Screen English itu mata kuliah yang mempelajari bahasa Inggris dalam layar alias film gitu. Aneh juga sih kenapa kelasnya mesti di conduct dalam bahasa Korea... 

Jadi, gimana strategi nge-soogang sincheong di KNU? ya.... saya sih coba coba klik disana sini aja nyari sebanyak mungkin kelas wegugo kang-eui nanti setelah ketemu kelas-kelasnya itu, kita kan bisa liat silabusnya. Jadi kita bakal tau kira-kira di mata kuliah itu kita bakal belajar apa aja. Nah, kalau kita tertarik tinggal cari tulisan μ‹ μ²­ alias 'pilih' ntar kelas itu pun masuk ke daftar mata kuliah kita. Kalau kuota kelasnya udah abis, biasanya tombol μ‹ μ²­nya berubah dari biru ke abu-abu jadi beku gitu ngga bisa di klik. Kalau gitu udah deh, tungguin aja malem atau besoknya siapa tau ada orang baik hati yang nge cancel  kelas itu. Terus kalau nggak jadi milih gimana? Ngga jadi milih ya gampang, tinggal pilih aja tombol μ΅œμ†Œ (chuiso) alias Cancel. Kalau ada mata kuliah yang jam nya bentrok, nanti dia bakal ngasih tau kita, bentrok sama mata kuliah yang mana. Abis itu pinter-pinter kita aja deh ngerancangnya gimana. Nah, kita gaperlu ngeklik Save segala soalnya kalau udah di sincheong  artinya ya udah masuk. Nanti langsung otomatis deh tersusun jadwal kuliahnya berikut μ‹œκ°„ν‘œ (sigan pyo) alias time tables nya. Udah deh selesai!

Mata kuliah yang dipilih dan time table nya

Nah, kalau kita tetep ga kebagian kelas gimana? Ya... harus pergi ke office jurusan mata kuliah yang kita pengenin, terus daftar secara manual. Kalau murid Koreanya sih susah kalau mau gini. Tapi mengingat kita sebagai mahasiswa asing, kita dapet keistimewaan ini. Asyik ya? Asyik dong ~

Sampai jumpaaaaah ~ 

Sabtu, 17 Agustus 2013

Living my South Korean Life (Part 2)

Mumpung lagi semangat nulis, gak apa-apa ya kalau ngepost lagi. Hehe. 

Hal lain yang sering ditanyain adalah proses belajarnya. Susah enggak? Dibilang susah, enggak kok. Tapi ya nggak gampang-gampang banget.

Jurusan saya di Undip dulu itu Business Administration. Meskipun di KNU juga ada jurusan tersebut, tapi saya mendaftar di jurusan International Trade dan Tourism Management. Kenapa? Ya soalnya saya suka aja sama dua bidang itu dan pikiran saya saya kan udah punya dasar juga di bidang bisnis. Sebetulnya kalau saya mau daftar Game Engineering atau Ballet juga bisa sih, tapi gile loh, banting setir banget dong jadinya.  Dan saya keterima di jurusan International Trade atau Kukje Muyeok Hagwa (κ΅­μ œλ¬΄μ—­ν•™κ³Ό) di Fakultas Ekonomi KNU. Terus kalau boleh bangga, disini jurusan ekonomi sama bisnis itu termasuk jurusan yang cukup wow. Apalagi International Trade. Hehehe. Reaksi orang sini waktu saya bilang jurusan saya International Trade itu mirip reaksi orang di Indonesia kalau kenalan sama orang dari jurusan Kedokteran. Muahaha. 

Suasana ruang kelas

Sebelum kesini, saya pernah belajar bahasa Korea selama kurang lebih enam bulan di Indonesia, secara mandiri. Meskipun saya lumayan bisa basic-basic nya, tapi saya nggak seberani itu buat ngambil kelas yang diajar pake bahasa korea. Jadi saya minta list dari International Office nya KNU mengenai kelas-kelas yang diconduct dalam bahasa Inggris. Dari jurusan saya sendiri, kelas yang begitu ga banyak. Jadi supaya nggak jadi pengangguran, saya ngambil kelas di fakultas lain misalnya fakultas Humanities atau Language College. Belajar bahasa Inggris sama bahasa Korea. Bisa kok, bisa. Nah, yaudah deh, dari situ saya belajar pake bahasa Inggris. Terus di kelas-kelas itu juga banyak mahasiswa exchange nya kayak saya. Jadi gausah khawatir. Belajarnya kayak gimana? Ya sama aja kayak kuliah di Indonesia. Ada dosennya, ada mahasiswanya. Terus dengerin dosennya ngomong deh. Kalau ada yang penting dicatet, kalau ngga ada yaudah diem aja, jangan ngobrol. Kayak yang saya bilang, karena banyak mahasiswa dari berbagai negara, jadi kita harus hati-hati sama kelakuan dan omongan kita. Gimanapun, secara langsung kita merepresentasikan Indonesia di hadapan mereka semua kan. Terus kalau ditanya dosen, jawab, jangan bengong. Biar bahasa Inggris nya berantakan juga gapapa asal ngomong dan sesuai topik. Jangan ang-eng-ang-eng doang yah. 

Sama temen-temen dari kelas Northeast Asia Economy

Terus, gitu doang? Ya enggak. Selayaknya kuliah di Indonesia. Ada presentasi, ada tugas kelompok, ada tugas juga. Nggak susah-susah banget kok. Tergantung kelas nya sih. Nah, kalau udah setengah semester belajar, ketemu deh tuh sama yang namanya UTS. Kalau udah satu semester ketemuanya UAS. Ujiannya kayak gimana? Macem-macem. Terserah dosennya. Dulu sih di kelas Conversation saya diajak ngobrol sama dosennya yang orang Kanada. Di kelas Business English saya disuruh ngelengkapin surat-surat bisnis. Di kelas lain saya disuruh nulis essay.. ya gitu. Tenang aja, exchange student biasanya dapet keistimewaan kok. Enak kan jadi exchange student? Enak laaaah ~

Dosen disini sebagian ada yang orang Korea asli, ada juga dosen dari negara lain. Kelas English Composition saya dosennya dari Amerika, dan kelas Conversation saya dosennya dari Kanada. Sementara kelas-kelas yang lain, dosennya rata-rata lulusan Amerika yang bahasa Inggrisnya udah fluent. Bahkan salah satu dosen saya ada yang pernah kerja di PBB. Namanya Profesor Cho Myung-soo. Keren kan. 

Nah, yang paling menarik itu menurut saya disini murid-muridnya itu super kompetitif. Kalau musim ujian perpustakaan utama pasti penuh. Sampe pada bawa blanket, sikat gigi plus pasta gigi sama slippernya. Iya, mereka nginep disana buat belajar. Saya juga bingung sih yang mereka pelajarin tuh apa. Kata roommate saya, pas musim ujian mereka berlomba-lomba buat dateng pagi supaya dapet meja. Dan disini perpusnya keren, selalu buka 24 jam. Pokoknya bener-bener mendukung buat belajar. 

Suasan perpustakaan utama, hari Minggu. 


Eh terus, kalau ujian mahasiswanya ada yang nyontek nggak? Ada. Hahaha. Yang pernah saya liat sih nyonteknya bikin catetan kecil atau bikin catetan di meja. Kalau nyonteknya nanya ke temen sih saya gatau, soalnya belum pernah liat. 

Nah, kalau udah selesai ujian, ntar kan dapet nilai. Nilainya itu bisa diliat di website universitas. Kalau di KNU namanya KNU Portal. Kita masukin student number sama password, ntar kebuka deh akun kita. Akun ini bisa dipake buat liat nilai, atau juga milih kelas pas awal semester gitu. Bisa juga liat time table jam kuliah kita. Oiya, kata temen saya, disini kalau lagi waktunya μˆ˜κ°•μ‹ μ²­ atau Sugang Sincheong - kalo di Indonesia namnay input KRS nya udah kayak perang. Iyalah, dengan koneksi masing-masing 59 Mbps gimana kelas ngga abis dalam itungan menit. Makanya, orang sini lebih milih buat KRS an di PC Bang alias warnet. Di warnet kan sering dipake orang sini buat main game, otomatis cepet dong koneksinya..

Living my South Korean Life (Part 1)

Jadi, setelah lebih dari setengah tahun menetap di negeri orang, saya baru ngisi blog ini lagi. Maaf yah. 

Negara orang tempat saya tinggal sekarang ini namanya Korea. Korea Selatan tepatnya. Atau orang sini biasa manggil Daehan Minkuk (λŒ€ν•œλ―Όκ΅­) alias Republik Korea kurang lebih. Mudah-mudahan itu bisa ngejawab kenapa pas ada pertandingan antar negaram mereka ngga ber-yel-yel "Soooouth Korea prok prok prok prok" melainkan "Daeeeehan Minkuk prok prok prok prok". Oh iya, sekedar informasi, yel-yel barusan nadanya sama kayak yel-yel Indonesia kalau lagi ada pertandingan bola. "Iiiindonesia prok prok prok prok" Pokoknya gitu deh, kebayang kan. 

Jadi kalau ditanya dalam rangka apa saya bisa kesini, jawabannya karena saya lagi pertukaran pelajar. Kok bisa? Ya bisa dong, gue gitu. Hehe. Nggak kok, bercanda. Jawabannya ya karena Undip sama Kangwon National University (KNU) lagi ngadain kerja sama dalam bidang pertukaran pelajar. Terus saya apply, seleksi berkas dan wawancara, jeng jeng... keterima deh. Meskipun prosesnya cukup panjang dan melelahkan. 

Nah, perjalanan saya dapet beasiswanya itu kan udah pernah ditulis di post sebelumnya, jadi saya nggak perlu cerita lagi ya. Saya dapet kesempatan untuk jadi mahasiswa exchane di KNU selama 2 semester, atau kurang lebih 10 bulan. Buat spring dan fall semester nanti. 

Terus terus, itu programnya gratis engga? Gratis dong, gue gitu. Hehe, bercanda lagi kok, tenang-tenang. Jadi pertukaran pelajar itu ada banyak macemnya. Kayak beasiswa, ada yang full scholarship, ada yang partial scholarship, ada juga bursaries dan lain sebagainya. Nah, kalau program yang saya dapet ini namanya Global Korean Scholarship alias GKS (sebelas duabelas sama KGSP lah) dimana saya nggak perlu ngeluarin biaya apapun. Mulai dari tuition fee, tiket pesawat, asuransi kesehatan, living cost sampai dapet settlement allowance. Tapi kalo biaya buat bikin visa sih tetep keluar ~

Terus tinggalnya dimana? Makannya gimana? Saya tinggal di salah satu asrama yang disediakan sama pihak KNU. Beruntung saya dapet asrama BTL, kata temen saya, BTL ini asrama paling bagus. Kayak hotel di dalem kampus. Setiap semesternya, saya harus ngeluarin sekitar 450 ribu won (kurs KRW-IDR itu sekitar 8-9 komaan, jadi buletin aja dikali 10 ya) kira-kira 4,5 juta rupiah lah. Loh, kok ngga gratis? Iya dong, gue git... eh ngga, maksudnya, biaya asrama itu kan termasuk biaya yang harus dikeluarin buat living, ya jadi itu udah termasuk living cost yang dikasih ke saya. Kayak bayar kos lah gitu. Tapi jumlahnya cukup? Ya cukup. Buat kampus saya, yang letaknya bukan di Seoul sih masih murah... jadi ya cukup-cukup aja. Kalau universitasnya di Seoul yah bisa sejutaan buat asrama doang. Apalagi, beasiswa saya juga jumlahnya lumayan. Kalau bisa nabung ntar balik-balik bisa jadi horang kayahhhh. Nggak deng, itu lebay. Pokoknya jumlahnya itu sekitar 4 kali lipatnya dari uang jajan roommate saya yang orang Korea perbulannya. Lumayan...

Asrama BTL buat mahasiswi


Makannya makannya? Masalah makan, saya ditawarin ikutan kafetaria sekolah. Tapi saya pilih buat nggak ikutan. Kenapa? Dulu sih pikiran saya takutnya banyak menu yang nggak bisa saya makan. Saya kan muslim, jadi ngga makan babi. Tapi saya bersyukur juga sih ga ikutan kafetaria. Kenapa? Ih, nanya mulu. Karena saya baik jadi saya jawab ya. Pertama, karena makan di kafetaria sekolah itu ada waktu-waktunya. Breakfast jam 7-9 pagi. Lunch jam jam 11 sampe jam 13. Dan dinner jam 5 sampe jam 7 malem. Di luar jam-jam itu kalau mau makan gimana? Ya nggak bisa, kan udah ada jamnya. Karena saya makhluk kesiangan, jadi pasti rugi dong saya udah bayar tapi ga sarapan. Terus kalau misalkan ada kelas pas jamnya lunch, saya gabisa ambil jatah makan siang saya, gitu juga sama makan malem. Udah gitu, menunya juga udah ditentuin jadi kita nggak bisa milih-milih. Kalau dikasihnya Donkatsu gimana? Yaudah wasalam, harus beli makanan lain, sayang kan uangnya. Loh, kafetarianya bayar toh? Ya bayar lah, jaman gini mana ada yang gratis. Kayak asrama barusan, termasuk living cost. Tapi kalau mau ikutan kafetaria kampus ya bisa, bayarnya sekitar 600 ribu won buat satu semester. Lebih murah, emang. Tapi makan di area kampus juga ngga mahal-mahal banget kok. Khususnya buat 식당 alias Shiktang atau restoran yang ada di area kampus. Sekitar 3000 won per porsinya, dan kita bisa milih menunya. Ayey!

Eh tapi halal nggak? Di Shiktang langganan saya, banyak menu yang bisa dimakan, misalnya Chamchi Bibimbap, Chamchi Albab, atau Sundubu. Kalau ada kata chamci nya itu berarti tuna. Sundubu itu sejenis sop tahu. Jangan dibayangin tahu kayak di Indonesia tapi. Enak kok, tapi pedes. Itu yang udah jelas-jelas halal (karena bahan dasarnya ikan). Kalau ayam gimana? Disini, saya masih makan ayam. Bisa juga makan chicken katsu atau dakgalbi.


Ini sundubu dan banchan (side dishes) nya

Nah, buat post yang ini, segitu dulu ya! Bersambung ke part selanjutnya biar ga kepanjangan...

Sabtu, 17 September 2011

housing in kyunghee university

halo halo halo

Hari Sabtu di kawasan Banyumanik deket-deket Tembalang dengan kondisi cuaca yang nggak jelas. 

Saya kan udah janji ya mau nyeritain fasilitas- fasilitas atau segala sesuatunya tentang Kyunghee. Dan sekarang, yepp saya mau nyeritain tentang housing dan library nya Kyunghee University ini.
Well, perlu diingat kalau saya bukanlah mahasiswa Kyunghee University meskipun saya berharap bisa melanjutkan studi S2 saya, ngambil gelar MBA di Kyunghee. Bukan Married By Accident lho ya, tapi Master of Business Administration. Saya ibaratnya cuma sebagai translator dari website Kyunghee University yang bisa dicek sendiri di . Website nya ditulis dalam bahasa Inggris, bisa juga dalam bahasa Korea. Saya cuma bantuin aja para dear readers yang ingin tahu lebih banyak tentang Kyunghee University, almamater Cho Kyuhyun ini. 

Seperti yang udah dijelasin dalam post sebelumnya, Kyunghee ini punya dua kampus. Yang pertama adalah Seoul Campus yang tentu saja terletak di Seoul, dan Global Campus yang terletak di Suwon. Lagi-lagi cuma sebagai tambahan, departemen Cho Kyuhyun, Post modern music itu berada dibawah College of Art and Design yang terletak di Global Campus, Suwon. 

Nah, untuk itulah Kyunghee juga menyediakan beberapa fasilitas 'housing' atau perumahan tempat murid-muridnya tinggal. Bisa murid yang memang asli orang Korea, maupun mahasiswa Internasionalnya. Berikut adalah ulasan mengenai housing yang ditawarkan sama Kyunghee ini. 

Sameuiwon Complex

Sameuiwon adalah 'housing' yang terletak di dalam Seoul Campus Kyunghee. Bentuknya Sameuiwon itu seperti kompel asrama yang bisa menampung sekitar 392 murid, baik murid lokal maupun internasional. Satu kamar berisi hingga empat orang. Sameuiwon dilengkapi dengan fasilitas tempat tidur, lemari, meja belajar, AC, jaringan LAN, dan telepon.

Sehwawon Dormitory

Sehwawon ini nampaknya lebih 'mewah' daripada Sameuiwon. Dana untuk membangun Sehwawon ini setengahnya berasal dari pemerintah Korea. Kelebihan Sehwawon daripada Sameuiwon adalah, setiap kamar di Sehwawon dilengkapi dengan toilet dan tempat cuci tangan. Sehwawon ini dapat menampung sekitar 432 orang. Setiap kamar dihuni oleh 2 orang.

Sehwawon Dormitory


I-House I&II

Nah, kalao I-House ini lebih wah lagi daripada Sameuiwon atau Sehwawon. Meskipun hanya memiliki 25 kamar yang digunakan oleh dua orang per kamarnya, namun tiap kamar di I-House ini dilengkapi dengan fasilitas seperti tempat cuci piring. kompor listrik, mesin cuci, toilet, lemari baju, rak sepatu, kursi dan meja belajar. Di lantai dua I-House ini juga dihiasi dengan air mancur, lho. I-House ini dihuni oleh sekitar 48 mahasiswa asing dengan dua orang penjaga. Penghuni I-House ini juga bisa menggunakan internet selama 24 jam penuh ! 

Off- Campus Housing - tempat tinggal di luar kampus
Sebenarnya tempat tinggal di luar kampus (kost) banyak tersebar di Korea, terutama di daerah 'suburb' Untuk pembayarannya, ada bermacam-macam alternatif seperti : 

Cheon-se
Sistem Cheonse ini awalnya lebih banyak digunakan oleh orang lokal Korea, tapi sekarang-sekarang ini juga banyak mahasiswa yang menggunakan sistem Cheonse. Sistem Cheonse ini caranya, kita mendepositkan sejumlah uang dimuka kepada sang pemilik rumah dalam jangka waktu sewa tertentu, jadi kita nggak perlu bayar lagi perbulannya. Nanti deposit yang telah kita berikan akan dikembalikan kalau jangka waktu sewa kita udah selesai. 

Wolse
Sepuluh sampai dua puluh kali uang sewa di depositkan di awal masa sewa. Tapi tiap bulannya kita masih harus bayar uang sewanya. Nanti diakhir masa sewa, uang deposit tersebut akan dikembalikan.

Wolse 2
Kalau dalam sistem ini, kita nggak perlu mendepositkan sejumlah uang pada sang pemilik. Sistem ini kaya kita bayar uang kos setiap bulan, cuma perlu ngasih uang muka aja. Nggak heran sistem ini banyak dipakai sama mahasiswa asing, terutama di daerah-daerah seperti Ittaewon, Hannam-dong, Seongbuk-dong.