Tampilkan postingan dengan label korea. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label korea. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 April 2017

[Exchange Student Life] - Chuncheon Family

The first time I got the news of I go a chance to live in Korea, I was overwhelmed by the joy. It was difficult not to, I've been dreaming of living abroad since I was in elementary school and it was just a step away!

It was true that I was almost devastated waiting the acceptance announcement from the university and the scholarship back then. The university acceptance announcement was quick, but the scholarship wasn't. Back then, if I didn't get the scholarship, I wouldn't take the offer. Studying abroad with self-funding had never been any option for me, and my family of course. Finally, the scholarship announcement released about 1,5 months later, I was about to scream joyfully if I were not in the office. I was on my internship back then. 



[Exchange Student Life] - Dormitory Life

Chuncheon city, is the capital of Gangwon province, South Korea.

When I was about to write my address in Korean, I would wrote it as Gangwon-do (Do to point the province), Chuncheon-si (Si means City) in Kangwon Daehak-gil, Gil means road, Hyoja-dong (Dong means street). This is where my university, Kangwon National University located at. In Korea, if you want to write a mailing address it has to be started with the largest area, in this case, write the province first, the city next, the road name after that, then the street. It is different with the way I write my mailing address in Indonesia, which is started by the street name.

We called our university with Kangdae, as a short version of Kangwon Daehakyo which means Kangwon University. If it is translated to English, name of this university will be Kangwon National University - not just Kangwon University. If the university name is translated to English, the 'National' can be used to figure if the university belongs to the government or a private organization. You can see, because the university name is slightly simpler for Korean, the Koreans have to memorize of at least do a wee bit of research to find out to whom the school is belong to.

That statue, Kangdae pride!

[Exchange Student Life] - Life of a Student

Back then when I had a chance to visit Japan in 2014, the mighty sakura hadn't bloomed yet. It seemed like I miscalculated the date, since flocks of tourist will flood Japan at around April or May to witness the glorious Sakura, but it wasn't.  I didn't want to miss my class on my first semester after I returned back for good from Korea, so flew to Japan before my semester was started. 😒

Just because Sakura is incredibly popular in Japan, so most people (or was it just me?) placing Japan and Sakura in a complementary term. I thought that Sakura is only existed in Japan, that's how it become famous, because you can only meet them in Japan. But I was wrong. Spring in Korea, taught me that Sakura is also exist in Korea in the name of blossom. They have a different name, of course. We called it Potkot in Korean. My American teacher, called that flower 'cherry blossom'. From that time, I stopped calling that type of flower with Sakura, and calling it with cherry blossom instead. It's like you meet a Jasmine in some western country and you call it 'Melati' in Indonesia. Same type, different name.

Sakura in Japan, Potkot in Korea, Cherry Blossom in... all over the world?
But wait, I'm not completely wrong, right? Evidently you can meet Sakura only in Japan. If you meet that flower in Korea, you won't call it Sakura, but Potkot instead 😝😝😝

Kamis, 13 April 2017

[Exchange Student Life] - Late Winter Arrival

As the spring has begun, my instagram timeline was filled by photos with cherry blossom background of my friends who are currently studying abroad or just traveling to hunt the cherry blossom peak season. This somehow, brought back my memories about the spring I had in 2013 when I was in South Korea.

 
Magnolia
To think about it, I think I haven't written enough about my experience in South Korea, have I? I was so productive into writing in 2012, mostly in fanfiction, which I had stopped writing it since I arrived in South Korea. At first I was thinking that I would be super productive once I arrived in the land where my muse (back then he is Super Junior Kyuhyun) lives but it wasn't. I was so mesmerized that finally, and finally, I was abroad, and somehow my writing appetite was going numb.

When I arrived, it was late winter. It was the early of March in 2013. The weather was super cold. I was freezing. At the first step I took when I went out from the Incheon Airport, I said "Somebody please turn off the AC!" Little did I know, it was the real weather of a winter. It was the first winter that I experienced, anyway. The cherry blossom, or in Korea it is called Potkot - hadn't bloomed yet.


Senin, 20 Februari 2017

[Fiction] - Satu Hari di Musim Gugur



Kau sudah sampai? Maaf, aku sepertinya terlambat. Tapi mungkin tidak terlalu lama. Tunggu ya. Maaf.

Kursi itu kosong. Kursi dengan serat kain pelapis berwarna biru laut yang telah kuhafal diluar kepala polanya. Kursi yang terletak di belakang setangkai bunga lili hitam yang selalu kuacuhkan keberadaannya, berapa kalipun aku meminta seseorang untuk meletakkannya disana. Kursi dengan pemandangan danpung – daun-daun yang memerah -  pada musim gugur Seoul yang indah di balik jendela. 

Sesekali aku melirik arloji di tanganku, sesekali melirik goguma latte berwarna keunguan yang kini mulai mendingin tanpa pernah kusentuh, tapi tak lama. Busa susu yang menghiasi permukaan latter itu berbentuk daun maple khas musim gugur, dengan enam ruas jari yang sudah kuhafal diluar kepala. Aku menunggu sudah lama. Aku bahkan menolak untuk mengecek sudah berapa lama aku duduk disini. Menatap kursi kosong, momiji, dan latte dihadapanku berganti-gantian. Tapi kursi di hadapanku entah bagaimana merebut perhatianku paling banyak dengan mudahnya. Seharusnya ada seseorang disana. Seseorang yang berjanji akan tiba sejak satu jam yang lalu. Satu menit, dua menit, tiga menit, aku mengatur posisi dudukku. Empat menit, lima menit, enam menit, aku menukar tangan yang kupakai untuk menopang daguku. Gusar, kuambil ponselku. 

Maaf ya, kau ingat Pak Kim kan? Bos-ku? Tiba-tiba dia memberiku setumpuk dokumen. Aku pasti datang, tunggu ya. 

Aku melengos kesamping. Berulangkali mambaca pesan yang masuk darimu. 

Senin, 31 Maret 2014

Summer in Jeju-do, Day 1

Hai!

Tahun 2013 mungkin bisa dibilang adalah tahun yang paling memorable buat saya. Ngga usah tanya alasannya sih ya, hehe. Di tahun ini, akhirnya setelah mimpi untuk bisa pergi keluar negeri dari saya TK akhirnya bisa kesampaian. Dan di tahun 2013 ini, saya banyak ketemu hal-hal baru yang nggak saya temuin di tahun-tahun sebelumnya. Dan, saya bisa merasakan tinggal di negara empat musim, dan menikmati keempat musimnya! 

Salah satu hal 'pertama kali' yang saya dapatkan selama di Korea adalah, liburan musim panas!
Sepele sih ya, tapi di Indonesia kan ngga ada liburan musim panas gitu. Orang sepanjang tahun panas mulu gitu.  Adanya libur lebaran, sama libur semester. Jadi kalau ditanya "liburan apaan?" ya jawabnya cuma bisa "liburan pas lebaran" atau "liburan ntar deh Januari, pas ganti semester". Kan kesannya kurang keren gitu ya, dibanding "Nanti, pas liburan musim panas". Iya, maksa sih emang. 

Jadi, liburan musim panas pertama saya ini, saya pengen jalan-jalan ke tempat yang spesial! Meskipun di Korea sendiri udah spesial, tapi saya pengen liburan ini benar-benar jadi liburan. Dan, akhirnya, temen Argentina saya, Lucas, nemu tiket promo ke pulau Jeju. Tanpa pikir panjang, langsung kita booking lah tiket ke pulau Bali nya Korea Selatan itu. Total harga tiketnya, sekitar 70ribu won, buat perjalanan pulang pergi. Cuma, kalau saya dari Seoul ke Jeju terus pulangnya dari Jeju ke Busan. Sedangkan temen saya, Umi, langsung balik ke Seoul. Harganya hampir sama. Oh iya, kita pakai maskapai Jeju Air. 



Kalau ditanya Jeju kayak apa, saya cuma bisa bilang 'ngga kayak Korea'. Alamnya lebih mirip Indonesia, tentunya di tempat-tempat yang masih hijau dan asri ya. Sejauh mata memandang, selalu bisa ngeliat warna hijau dan biru. Mungkin kalau orang-orangnya ngga ngomong bahasa Korea dan huruf-hurufnya ngga pake Hangeul, ga berasa di Korea deh.

Kemaren saya nginep di daerah Seogwipo. Salah satu daerah yang katanya memang daerah turis di Jeju ini. Saya belum pernah ke Bali sih, tapi mungkin ini kayak daerah Denpasar gitu kali ya? Gatau deng. Yang jelas, banyak tempat wisata yang bisa dikunjungin di daerah Seogwipo ini. Dan, tempatnya cukup mudah dijangkau dari bandara Jeju nya sendiri yang terletak di Jeju-si. Tadinya saya sempet takut, karena kita nyampenya lumayan malem (sekitar jam 8 malem sih) dan di peta, kelihatannya Seogwipo sama Jeju-si itu jauh. Tapi ternyata bisa ditempuh dengan sekali naik bus nomer #600 (Limousine Bus) dan bisa nyampe Seogwipo dalam waktu satu jam. Ternyata pas saya perhatiin, bandara Jeju dan Seogwipo itu berada di satu garis lurus, jadi rutenya gaperlu muter-muter dulu.

Dalam bus perjalan menuju Seogwipo, kita melewati satu daerah resort mewah. Kalau ga salah, namanya Jungmun Resort. Ini adalah area hotel dan resort mewah di daerah Jeju. Dan yang namanya mewah, bener-bener mewah! Kayak istana pokoknya. Ngga kebayang semalemnya disana harus ngabisin uang berapa. Ada hotel punyanya Lotte, Shilla dan masih banyak lagi yang sama mewahnya. Dan semua hotel itu, masing-masing punya pemandangan yang menghadap langsung ke garis pantai Jungmun. Meskipun malem itu saya ga bisa liat apa-apa, tetep aja pencahayaan lampu resortnya bikin saya terkagum-kagum sama jajaran istana ini. 

ini di depan Lotte Hotel, diambil di lain hari 

Dari Seoul, saya berangkat bareng Lucas, Melissa dan Hernan yang mana ketiganya itu orang Argentina. Ada yang lucu sebelum berangkat. Saya kira, flight kita ke Jeju itu tanggal 23 Juni. Seminggu sebelum berangkat, Lucas ngasi tau kalau flight kita itu tanggal 22 Juni. Kaget lah saya, mana udah booking hostel. Ternyata bener, flight saya itu tanggal 22 Juni. Dan waktu itu, saya udah nggak bisa ngemodif booking hostel, yang artinya kita harus cari tempat nginep baru. Saya pun booking lagi hostel yang saya prediksi ngga jauh-jauh dari letak hostel yang saya booking sebelumnya. Untunglah, nemu. Nama hostelnya Kkodak-kkodak guesthouse. 

Hostelnya emang ngga bagus-bagus banget, tapi bersih. Dan cukup nyaman. Terus sopir taksinya juga langsung tahu letak Kkodak-kkodak ini. Ngga tau karena kebetulan sopir taksinya canggih atau emang terkenal ya. Akhirnya, dari bandara langsunglah kita menempati hostel bookingan kita di Kkodak-kkodak.

Guesthousenya sepi banget, saya kira malah cuma kita yang nginep. Jadi pas kita masuk lampu koridor hostelnya baru dinyalain gitu, keliatan banget kalau memang hostel itu belum ada penghuninya. Sempet serem sih awalnya, karena saya cuma berdua sama Umi, dan kita sama-sama cewek. Oh iya, temen-temen Argentina saya, lebih memilih buat camping entah dimana daripada nyewa hostel. Camping lebih murah sih, tapi kayaknya ya nggak lebih nyaman. Saya dan Umi memperhitungkan gimana nanti kita solat dan segala macemnya, jadi kita nggak ikutan camping segala. Ngga apa-apa deh keluar uang sedikit pas liburan, asal nyaman. Hehe.

Terus saya ngerasa bersalah udah negative thinking sama ahjussi penjaga hotelnya. Karena, awalnya kan kita booking kamar dormitory buat 4 orang. Eh, kita dikasih kamar yang buat dua orang, lengkap dengan kamar mandi, tv dan kipas angin di dalamnya. Sempet kepikiran juga sih buat nerusin nginep di Kkodak-kkodak, tapi kita ga mungkin ngecancel guesthouse yang sebelumnya saya booking juga. Dan, kita berasumsi, mungkin aja hostel kedua nanti (namanya Namguk Hostel) lebih bagus - karena lebih mahal juga.

Sampe kamar kita langsung istirahat, persiapan buat petualangan besok harinya. Untung di hari pertama ini kamarnya nyaman, jadi kita bisa beristirahat dengan nyaman...

Day 1

Paginya, kita beres-beres untuk pindah hostel. Ahjussinya bilang terus nginep disana aja... yang kita tolak dengan tatapan malu-malu. Would love too sih, pak, tapi... kita udah keduluan booking juga. Dan lagi, saya pikit salah satu kekurangannya Kkodak-kkodak guesthouse itu letaknya lumayan dari jalan utama, jadi agak susah buat cari taksi. Tapi untunglah, sang ahjussi yang baik hati ini mau nelepon taksi buat nganterin kita.

Sesampainya di Namguk Hostel, kita 'dikacangin' sama front officenya. Ngga ada orang. Ada kali 30 menitan kita nunggu sampe akhirnya ada mbak-mbak yang dateng dan ngelayanin kita. Waktu itu kan kita dateng sekitar jam 12, tapi itu belum waktunya check in karena di Namguk Hostel ternyata check in nya dimulai dari jam 3. Akhirnya kita pun minta izin buat numpang solat (dengan alasan mau ganti baju) dan titip koper. Setelah itu, baru deh kita jalan ke destinasi wisata yang ngga jauh dari hostel ini. Namanya, Cheonjiyeon Waterfalls.

Oh iya, sebelum itu, kita makan dulu. Sumpah, gak ada makanan yang saya kenal namanya. Sambil berharap itu nggak mengandung daging babi, akhirnya kita milih makanan yang paling murah. Side dishesnya dikasih buanyaaakkk banget, warna warni dan apik kalau di foto. Tapi makanannya.... nggak enak. Saya berasa kambing karena di dalem mangkok itu, isinya cuma berbagai macam sayuran. Tapi apa daya, daripada kelaperan, ya usah saya makan aja... Hiks. 

makanannya


Ngga tau sih kenapa air terjun ini begitu terkenal. Tapi, Umi bilang kayaknya itu air terjun yang alirannya langsung ngalir ke laut. Yaudah, excited kan saya. Kitapun berjalan kaki kesana, nggak terlalu jauh sih, tapi ya lumayan - apalagi saat itu saya pake sepatu yang salah (nyalahin sepatu!) 


salah sepatu -_-"


Pas nyampe sana, banyak banget turis asingnya. Terutama yang berbahasa Cina gitu. Kami beli tiketnya, terus foto-foto deh . Eh, kalau urusan foto-foto mah emang udah dari awal perjalanan sih. Hehe. Tapi, sesampainya saya di lokasi air terjunnya, saya cukup kecewa. Kenapa? Karena di Indonesia air terjun begitu mah banyak. Lebih bagus malah. Bedanya yaaa.... cuma air terjun yang ini letaknya di Korea aja. Jadi namanya juga ke Korea-koreaan. Cuma ya gapapa deh, pemandangannya bagus. Dan ngga ketinggalan, ada mitos kolam - yang mana kalau kita ngelempar koin dan masuk ke area yang ditentukan, nanti keinginannya bisa kekabul. Banyak banget deh tempat berlegenda kayak gitu. Di Cheonggyecheon stream juga ada. Saya jadi curiga, itu akal-akalannya pemerintah Korea aja biar banyak turis yang buang-buang koin disitu. Hehe.

Ini air terjunnya
  
Dari sana, kita melanjutkan perjalanan ke Jungmun beach. Saya dan Umi, yang sama-sama buta arah, langsung menuju tourist information terdekat buat nanya jalan tercepat ke Jungmun Beach. Oh iya, di Jeju-do, gausah khawatir, Tourist Information nya ada dimana-mana. Meskipun sempat tersesat dan tak tahu arah jalan pulan #tsaah kita puter arah dan nemuin bus stop yang dikasi tau sama mbak-mbak yang di Tourist Information tadi. Dari Cheonjiyeon waterfalls ke Jungmun Beach ini, kita cukup sekali kok naik Limousine Bus nomer 600 - seperti yang kita naikin dari bandara Jeju ke Seogwipo. Turunnya di Jungmun Resort, di depat Hyatt Hotel. Iya, bener, ga salah ketik kok. Beneran di Hyatt Hotel. Saya juga awkward gitu pas dateng kesana... masa turun bener-bener di depan hotelnya - yang langsung disambut para bellboy Korea yang kece-kece padahal kita bukan tamu disana. Tapi yaudah lah yah, dari websitenya emang ditulis begitu. Kita ikut aja.

pemandangan di sekitar jalan menuju halte bus nomer 600


Ternyata, di sampingnya Hyatt Hotel itu ada jalan setapak menuju pantainya. Seru deh, jadi kayak pantai tersembunyi gitu. Ngga terlalu jauh. Dan yang lebih seru, ternyata kita bisa jalan-jalan di taman belakang hotelnya yang keren banget. Disitu ada sejenis .... bangunan kecil - gatau itu gereja atau aula kecil - yang dijadiin tempat syutingnya Boys Before Flowers! Kyaaa!


tempat syuting BBF


Dan pas disitu, kita juga sempet ngeliat ada yang lagi nikahan. Pasti orang tajir deh, nikahannya aja di Hyatt Hotel Jeju. Pas kita liat, mereka punya banyak bodyguard gitu yang naik mobil van kayak punya artis. Dan yang lebih mengejutkan, mereka ngga ngomong pake bahasa Korea. Tapi pake bahasa Cina!

Nah, setelah puas foto-foto di area taman hotel, kita pun turun ke pantainya. Yak, jadi pantainya ada di bawah tebing gitu. Tenang, ada tangga yang cukup layak kok buat turun ke pantainya.

Pantainya.... ya, lumayan. Namanya juga pantai yah, dimana-mana sama. Ada pasir, ada air. Ada batu, ada ombak. Ada orang-orang main voli, ada orang jogging atau cari kerang. Tapi, cukup memakan waktu lah untuk foto-foto disini. Apa sih yang enggak difoto selagi liburan di pulau liburannya orang Korea? 

Keistimewaannya dari pantai ini adalah, ada kincir anginnya. Itu doang, satu, dan nggak muter. Tapi cukup cantik buat jadi objekan foto. Hehe.



Setelah puas jepret-jepret sana sini, saya dan Umi pun balik ke hostel untuk mempersiapkan perjalanan besok.




Rabu, 20 November 2013

Dream High Filming Location!

Oke, satu post lagi untuk hari ini. 



Saya pengen ngajak jalan-jalan ke filming locationnya Dream High. Mau?



Ini salah satu tujuan ter-random saya sih. Tapi sebelum ke Korea, saya selalu pengen mengunjungi tempat-tempat yang ada di drama, alias filming location. Kalau bisa bahasa Korea, kayanya hampir semua lokasi syuting drama Korea bisa ditemukan di Naver, lengkap dengan petunjuk arahnya. Tapi sayang, bahasa Korea saya cuma lebih dikit dari pas-pasan, akhirnya saya mengandalkan blog-blog orang yang berbahasa Inggris yang udah pernah kesana.





Nah, buat yang penasaran, lokasi syutingnya Dream High ini beneran sekolah loh. Letaknya ada di Incheon. Memang bukan sekolah normal gitu sih, ini sekolah seni, art school. Saya engga liat gimana kegiatan belajar mengajar mereka sih, tapi kabarnya, tempat ini dibangun untuk memfasilitasi seniman-seniman muda untuk belajar. Keren ya..





Waktu saya kesini, kayaknya ada beberapa bagian yang udah berubah daripada dulu waktu syutingnya dilakuin. Tapi overall, semuanya masih tetep sama kok.

ceritanya jadi Hyemi yang lagi dikejar-kejar gangster


Masih ada jembatannya,

spanduknya ganggu ya


Masih ada koridornya

kalau ga salah, ini tempat Jason latihan ngedance.

Yang penting, masih ada sekolahannya.



Saya dateng kesini waktu hari Minggu, karena dari blog yang saya baca, di hari lain mungkin kita gak bisa bebas foto-foto karena ada kegiatan belajar mengajar. Ya namanya juga sekolah ya. Jadi, direkomendasikan untuk pergi kesini di hari libur.

kalau ga salah ada adegan marah marahan disini


Setelah puas foto-foto, ada kafe kecil yang cozy banget di dalam area sekolah. Waiternya juga baik banget. Karena waktu saya kesini itu musim panas dan cuacanya memang panas, kafenya tepat banget buat ngadem.



Nah, bagi yang mau kesini, tempat ini namanya Incheon Art Platform. Letaknya ada di Incheon, deket dari Incheon China Town (Incheon terkenal dengan China Townnya). Tinggak naik subway line 1 ke Incheon (inget, Incheon station ya, bukan Incheon Airport Station) udah gitu keluar lewat exit 1. Disitu, kita bakal disambut sama gerbang China Town yang gede banget.


ini gerbang Chinatownnya. Belok kanan, ya setelah nyebrang.


Tinggal nyebrang, terus belok kanan, ikutin jalan. Disana banyak papan jalan yang tersedia kok, meskipun pada dasarnya cukup lurus aja menyusuri jalan. Tempatnya cukup mudah buat dikenali kok.





Kalau udah beres foto-foto di sekolahnya, engga ada salahnya kok buat mampir ke Incheon China Town. Selain dekat, itu juga landmarknya Incheon. Oh ya, di sekitar situ juga ada taman - yang kalau saya ga salah inget sih namanya Taman Perdamaian dimana di taman itu, kita bisa liat harbornya Incheon dari ketinggian.

the Incheon harbor
Chinatown

Anyway, selamat jadi Go Hyemi atau Song Samdong!


Korean Palaces - Changdeokgung

Istana lain yang saya kunjungi adalah....

Changdeokgung!



Inget, engga usah pake Palace lagi karena Gung artinya udah palace.



Sebetulnya, Changdeokgung itu masih ada dalam satu lokasi dengan istana sebelumnya, Gyeongbok. Cuma ya, kalau capek jalan, bisa sih naik subway aja kesini. Turun di Anguk station (line 3) ambil exit 3 atau bisa juga turun di Jongno 3(sam)-ga station (line 1,3,5) exit 7. Dari kedua staisun ini, jalan lurus aja. Kalau dari Anguk station jalannya cuma 5 menit. Kalau dari Jongno jalannya 10 menit menurut website ini.



Sebenarnya, Changdeokgung sama Gyeongbokgung sebelas dua belas lah, sama aja. Namanya juga istana di Korea. Saya jadi curiga, jangan-jangan semua istana di Korea emang sama semua. Tapi yaudahlah ya, daripada penasaran, akhirnya kita dateng aja ke Changdeokgung.

sama aja kan...


Mungkin karena saya datang ke Changdeokgung pas hari Jumat, which is not a weekend, istana ini lebih sepi daripada istana Gyeongbok. Entah memang istana ini kurang populer, atau memang pengaruh hari ya. Tapi di istana ini, banyak turis asingnya. Terutama turis dari negara tetangga, seperti Jepang dan Cina. Makanya mereka ngasih free tour guide yang di conduct dalam bahasa Inggris, China dan Jepang dengan waktu yang berbeda-beda.



Nah, bedanya dari Gyeongbokgung, istana ini punya sebuah taman rahasia - namanya Secret Garden. Iya, apapun yang bernama rahasia emang bikin penasaran ya. Tapi saya engga masuk ke secret garden ini. Kenapa? Ya karena paling dalemnya gitu gitu aja, ada pohon dan taman. Ada istananya dikit-dikit. Udah. Dan lagi, kalau masuk ke secret garden itu ada biaya tambahannya. Yah, ketauan deh ya kenapa ga masuk secret gardennya. Hehe. 

deket pintu masuk secret garden

Udah gitu, saya sempet liat ada pohon yang dibawa masuk dari kawasan Changdeokgung ke dalam Secret Garden. Yaudah, saya berkesimpulan masuk Secret Gardennya bukan suatu kewajiban. Lah, orang pohonnya aja dipindahin dari Changdeokgung kok...

pohonnya dipindahin

Buahnya kayak ditancepin aja gitu di ranting. Persimmon bukan ya?

Tapi serius, menurut saya sih Changdeokgung nya aja udah menarik kok. Malah, menurut saya lebih bagus daripada Gyeongbokgung. Lebih bersih dan tertata, dan, lebih less crowded. Gampang banget buat dapet foto yang kece disini. Asal kameranya bagus aja. Ngga heran kalau banyak ahjussi yang berlalu lalang dengan kamera bak teropong di sekitaran istana ini.



Di istana ini, kita ketemu sama keluarga yang baik banget, ngajak kita ngobrol dan kenalan. Ternyata bapaknya pernah ke Indonesia buat liburan. Terus kita diajakin foto sama mereka... Dan pas saya jalan lagi, saya ketemu turis, yang tadinya saya kira orang Korea padahal orang Jepang yang bisa ngomong bahasa Indonesia! Hahahhaa. Gak lancar sih, tapi kagum aja ketemu orang yang bisa bahasa Indonesia di Changdeokgung ini. Satu kalimatnya yang bikin saya dan teman-teman ngakak adalah :



"Perempuan Indonesia, suka ambil banyak foto"


Betul sekali, bapak.



Korean Palaces - Gyeongbokgung

Saya rasa, kalau jalan-jalan ke negara-negara di Asia Timur, upload-an fotonya pasti ngga jauh-jauh dari bangunan bersejarah. Entah itu istana, temple, shrine, dan lain sebagainya. Makanya, mumpung udah di Korea, rasanya belum afdol kalau belum berkunjung ke istana-istana itu. Di korea, istana disebut dengan ꢁ atau dibaca Gung. Dulu kan pernah ada drama Korea yang booming banget di Indonesia tentang gadis biasa yang dijodohin sama pangeran Korea dengan judul Princess Hours. Kalau di Korea, judulnya Goong, alias Istana. Sayangnya, istana yang dijadiin filming location buat film ini agak jauh. Di Daegu kalau ga salah sih, deket Busan. Jadi, sebelum berkunjung ke istana yang nun jauh disana, mari kunjungin Istana disekitaran Seoul.

pasti sering liat gambar ini...

Siapapun yang berkunjung ke Korea, gue rasa pasti pernah mengunjungi istana ini. Istana paling terkenal kali di Seoul. Namanya, Gyeongbokgung. Ngga usah pake palace, karena Gung itu artinya udah palace. Jadi kalau nyebut Gyeongbokgung Palace, artinya jadi Istana istana Gyeongbok. Hehe. Selalu rame, padahal ya bentuknya gitu-gitu aja. Mungkin istana ini rame gara-gara terletak di pusat kota, di daerah Gwanghwamun. Itu loh, tempat berdirinya patung The Great King Sejong dan Admiral Yi Soon Shin nya. Bisa dibilang, Gyeongbukgung dan dua patung yang ada dihadapannya itu maskot Korea banget. Lagipula, untuk ngambil foto sama istana ini (kalau engga niat masuk ke dalemnya) juga bisa kok. Makanya orang-orang suka. Kalau diitung-itung, mungkin udah lebih dari 5 kali saya kesini. Baik itu yang tujuannya saya yang pengen, atau nganter jalan-jalan orang lain. 

Ini, template fotonya begini


Terus, di istana ini juga sering ada upacara pertukaran penjaga gitu. Jadi, di depan istana ini kan ada beberapa penjaga dengan seragamnya yang warna warni. Mereka berdiri aja disitu, nggak boleh gerak, sepanas atau sedingin apapun. Serese apapun orang-orang yang foto sama mereka. Dulu waktu saya pertama kali kesini sih saya masih boleh foto sebelahan sama pengawalnya. Kalau sekarang, udah engga bisa. Kita harus jaga jarak sekitar 1 meter dari mereka. Kalau kita nekat berdiri di sebelah mereka buat foto-foto gimana? Ya ngga apa-apa sih. Paling dimarahin sama penjaga lain yang bisa gerak. Saya ngerti sih alesan kenapa diterapin aturan jarak ini. Habis emang para pengawal ini menggoda banget buat dites kesabarannya. Misalnya, pengen tau mereka bakalan tetep diem aja engga kalau kita ambil pedangnya. Atau kita kelitikin pinggangnya. Who knows ?

Dulu masih boleh foto sebelahan gini... untung sempet.
kalau sekarang harus jauhan...


Oia, pergantian penjaga ini biasanya dilakuin sekitar jam 11 pagi. Jadi, kalau mau liat upacara pergantian penjaga, datenglah sebelum itu ~

Biasanya, bapaknya ga boleh jalan jalan
Harga tiket masuk ke istana ini 3ribu won, atau sekitar 30 ribu rupiah. Di dalemnya ada apa sih? Yaa... biasa, kaya bangunan jaman dulu Korea yang suka kita liat di film-film kolosal. Persis deh kayak gitu. Dengan ukiran-ukiran yang seragam, dan pilar-pilar warna merah.






Yang menarik, di istana Gyeongbokgung ini ada satu istana yang terletak di tengah kolam. Bagus deh, saya jadi curiga kayaknya saya pernah liat istana ini di drama Rooftop Prince. Tapi engga ada sumber yang menyebutkan kalau Rooftop Prince disyuting di Gyeongbukgung.

yang di Rooftop Prince, ini bukan ya?

Ya emang ngga mungkin sih, Gyeongbokgung terlalu populer dan terlalu crowded untuk dijadikan tempat syuting. Dan lagi, entah emang aturannya atau gimana, film Korea itu sejenis memang 'diharuskan' untuk menyelipkan minimal satu destinasi wisata di dalamnya. Kalau Gyeongbokgung kan udah populer, jadi ga perlu dipromosiin kayak gitu lagi sementara banyak istana lain yang kayaknya lebih perlu promosi... 



Di dalam Gyeongbokgung juga ada satu museum, ngga tau sih itu museum apa, tapi di dalemnya ada minatur Korea jaman dulu, baju-baju korea jaman dulu, dan lain sebagainya. Yang menarik, ada satu ruangan buat istirahat gitu, dimana kita bisa duduk sambil ngeliat pemandangan hutan bambu diiringi suara burung berkicau dan air mengalir - lewat layar tancap. Yang menarik, di dalam museumnya ada sejenis handphone yang kalau kita pake buat menyoroti satu gambar kuncup bunga, di layar handphonenya bunga itu bisa perlahan mekar! Keren banget!! Tapi gak ada fotonya... bukan berarti ini hoax loh ya...




Dan ngga ketinggalan, kita juga bisa nyewa seragam ala penjaga Korea, gratis, di depan Gyeongbokgungnya. Tapi penyewaan ini ada waktunya, dan harus reservasi lebih dulu meskipun reservasinya on the spot. 


Kalau mau kesini, bisa naik subway ke Gyeongbokgung Palace Station (Line 3) ambil exit nomer 5. Bisa juga turun di Gwanghwamun Station (Line 5) dan ambil exit nomer 2. Kalau winter, istana ini dibuka dari jam 9 pagi sampe jam 5 sore, sementara di musim yang lain, buka jam 9 pagi tutup jam 6 sore. Info lengkapnya, silahkan di cek di sini . Ada informasi tentang tur dengan bahasa Inggrisnya juga loh! 




Selamat jalan-jalan ke Gyeongbokgung!