Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Mei 2017

[Review] : Critical Eleven : In Between The Movie and The Novel


Ketika pertama kali dengar kalau Critical Eleven akan diangkat ke layar perak, saya langsung memasukkan film ini ke dalam wishlist 2017 ini. Selain saya suka banget sama novelnya, woro-woro dari si penulisnya, Ika Natassa, yang cukup intens di social medianya juga bikin geregetan abis. Tapi, at the same time, saya juga nggak mau berekspektasi terlalu tinggi. Dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, film apapun, mau sekelas Twilight sekalipun, seringkali kurang nendang begitu diangkat jadi film. Jadi, sebelum masuk studio, saya berusaha untuk santai-santai saja. 

Film ini dimulai dengan apik. Belum apa-apa saya sudah dibuat tersipu-sipu sama percakapan antara Ale dan Anya di pesawat, tempat dimana mereka bertemu. Di novel, kak Ika mengandalkan narasi untuk menggambarkan isi hati tokoh-tokohnya, itu juga yang menurut saya kekuatan dari novel-novelnya kak Ika, so the reader can feel the engagement with the book in their own way. Di novelnya, pembaca bisa tahu bagaimana isi hati dan jalan pemikiran tokoh-tokohnya. Isi hati dan jalan pemikiran tokoh ini yang nantinya menjadi dasar tindakan apa yang akan dilakukan si tokoh. Jadi pembaca bisa mengerti kenapa si Ale melakukan A, karena menurut pikiran dia A, kenapa si Anya melakukan B, karena menurut pikiran Anya ya B. 

Kamis, 09 Maret 2017

Happy International Women's Day!



 
Source : https://www.pinterest.com/dennlet/inspirational-women/


It is devastating whenever I read some comments on social media, the patriarchal culture in Indonesia is very obvious. It is closer to sexism sometimes. As an Indonesian, I am familiar with a lot of saying that belittling a woman, whether or not the speaker realize it. If you’re an Indonesian woman, you will agree, that you must have at least one relatives or neighbours, who said that even you have a Master of PhD, in the end you will be back to the kitchen. Right? Right. Or you will be familiar with people commenting “So she hasn’t married yet in her 30? No wonder, she’s being too ambitious with her career. What’s the point of those money without a husband and children anyway?” Or people who comments that if your age is more than 29 and unmarried, it is your fault of being picky. When you leave your ex for a better off man, you will be blamed of not being faithful and being a materialistic gold digger. When you choose to marry a not too good looking guy, well, people will questioned how rich is he.

And when you’re married, and haven’t had a child yet, they will say “It’s not good to be in contraception that early, it’s your first child!”, or if you have had your first child, they will say when will you give your child a sibling? Your children must be lonely, and it’s not good to have only one child. When you’re experiencing a miscarriage, it’s your fault of not eating a right food, of doing too much carrying heavy things. When you can’t cook a delicious food or you can’t do some house chores well, you have to question if you have passed the standard of being a housewife. When you choose to be a working mom, you’re not a good mother because you neglect your children. When you’re staying at home mom, well, a woman can’t be that lazy! When your kids are being naughty, people said the mother doesn’t take care of them much, too busy with her work, or too busy with her friends. When your son do drugs, when your daughter being a young mother, it is your fault of not educating and protecting the children well so they trapped into such a misery! 

When a woman file a divorce, people says that you’re not a good woman. You’re not good because you can’t protect your household. When a man file a divorce, people will get suspicious, questioning if you’re a nice woman – you know, that woman who never get home late, stays at home, never meet any other man, never go to some parties with friend, never waste your husband’s money, never to be ambitious with your career, have a nice kid and so on that define a nice woman. If it’s crystal clear that your husband fault that your marriage fall apart, you gotta be patient a little! Don’t you pity the children? They said.  So whether the man or the woman fill a divorce, who to blame? Woman of course! When the husband cheats, it’s your fault because you can’t provide enough so he has to look for it in another woman. When you cheat, well, all hell broke loose. 

When a politician do corruption, people will said “Of course, his wife’s shopping appetite must lead him to a corruption!” When a woman get raped, it’s her fault of wearing revealing clothes, being in particular place, doing some particular things. It is your fault of being stupid of saying yes to someone that you trust in the first place. This is the most disgusting, blaming the victim of receiving something that she never wanted to?

I refuse to admit that I am a feminist. I love the idea of equality between men and women, but to declare myself as a feminist, it is still long way to go. However, I like the idea of humanizing woman at its best. They have human rights as equal as men do. They have options, they have decision. They can drive their life wherever they want to. They have thoughts, they have consideration. They have wish and dream. They have things they like, things they don’t. They have things they want to do, and thing they don’t. They can say yes, and they can say no. They’re not just a mere child labourer, house cleaner, foods maker, or anything that objectifies them. 

Happy International Women's Day!

Senin, 29 Juni 2015

Book Review : Norwegian Wood by Haruki Murakami

Beberapa hari yang lalu, saya baru saja menamatkan salah satu buku yang sudah jadi wishlist bacaan saya sejak lama. Judulnya Norwegian Wood. Penulisnya, Haruki Murakami. 
Seperti yang saya bilang sebelumnya, ini adalah kali pertama saya baca bukunya Murakami. Awalnya saya cuma dengar-dengar saja tentang nama besar Murakami sebagai novelis Jepang yang karyanya sudah dinikmati di seluruh dunia. Oh iya, saya juga sempat dengar tentang Murakami, sebagai penulis Jepang, dengan setting novel yang rata-rata di Jepang, tapi seringkali mengangkat isu yang kebarat-baratan.

Saya langsung jatuh cinta sama Norwegian Wood!




Sabtu, 06 Juni 2015

Senbatsu Sounsenkyo, AKB48 dan Selintas Mengenai Customer Engagement

source: http://magikowonderland.blogspot.com/


Setiap tahun, 48 Group memiliki perhelatan akbar yang dinamakan Senbatsu Sousenkyo. Senbatsu artinya member-member pilihan. Dan Sounsenkyo, artinya pemilihan. Meskipun menyandang angka 48, bukan berarti jumlah anggota 48Group ini ada 48 orang, meskipun tetap saja jumlah 48 orang itu lumayan ‘aneh’ kalau bicara tentang jumlah anggota sebuah grup musik yang mungkin paling banyak hanya beranggotakan belasan orang. Ada lebih dari 300 gadis yang menjadi anggota idol group ini, dan mereka semua adalah member aktif!

Sabtu, 16 Agustus 2014

Meanwhile on the Train

There's a lot of things, like, 'lots' on the last few months of my life. 

I've been started my internship since about two weeks ago, in an advertising company that I enjoy very much. Perusahaan Jepang, perusahaan yang besar, perusahan yang sudah saya incar dari dulu. Saya kira, dua bulan magang bakal jadi hal yang membosankan. Cerita-cerita temen tentang di tempat magang yang kerjaannya cuma lomba 'lama-lamaan' di kantor, fortunatelly, nggak terjadi sama saya. Saya memang baru magang dua minggu, tapi saya dapat pengalaman yang nggak terhingga. Now I understand why the internship experience will be really, like really beneficial if I go to work later. 

Saya bukan cuma merasakan senangnya bisa berkontribusi untuk satu perusahaan, bertukar pikiran sama supervisor saya yang masih muda tapi berwawasan luas, gimana 'bangganya' waktu supervisor bilang "Untung kamu ngasih tau.." or things like that. Hal-hal seperti itu kayaknya nggak ada kata-kata yang cukup untuk menggambarkannya. That was kind of feeling that if you haven't experienced it, you will never know. Or the time when I got my first paycheck, I was very very happy. Setelah berhari-hari berdesak-desakan sama orang-orang di kereta, bingung sama hingar-bingar ibu kota, mendapat gaji dari hasil keringat sendiri rasanya nggak bisa digambarkan dengan kata-kata. Jumlahnya memang nggak besar. Tapi uang itu, bertahan beberapa minggu di dompet saya. Masih dalam posisi ter-hekter dengan baik. Sayapun lama menimbang-nimbang untuk apa uang itu mau saya pake. Beli sepatu.... beli baju... atau beli apa ya? But I ended up giving the money to my parent. A friend of mine, who is really really wise, was giving me such a wonderful advice. Gaji pertama, bukan hal yang bakal saya dapatkan setiap bulannya kan? Sepatu, baju, atau hal-hal yang saya pengen beli bisa menunggu. Tapi saya pengen gaji pertama ini jadi spesial.

Kamis, 03 Juli 2014

Tentang Lulus Tepat Waktu dan Satu Tahun yang Tertinggal

Waktu saya masuk Undip pertama kali, lulus cepat adalah target utama saya. Saya bertekad harus menyelesaikan kuliah dalam waktu 4 tahun, nggak boleh lebih. Tapi, apa yang saya rencanakan ya tinggal rencana.  Banyak orang yang bilang, dengan berkuliah, kita selangkah lebih dekat dengan dunia nyata, dunia kerja. Kebanyakan orang yang saya kenal memang sudah merencanakan kalau mereka bakal langsung bekerja setelah lulus kuliah, dan, kalau bisa, tentunya di perusahaan yang bonafid.

Singkatnya, karena kepergian saya ke Korsel tahun lalu, saya mesti mengulang beberapa mata kuliah berhubung mata kuliah tersebut nggak bisa di transfer. Saya sudah tahu resiko ini sejak awal saya mendaftar program pertukaran pelajar sampai akhirnya terpilih. Cuma, ternyata sensasi ‘mengulang’ itu baru kerasa sekarang. Waktu masuk kelas, nggak ada yang dikenal. Waktu kuliah kosong, jadi satu-satunya orang yang masuk kelas karena nggak dapat informasi… hal-hal seperti itu udah jadi makanan sehari-hari.

Sabtu, 12 April 2014

Ego Traps

This morning I saw my sister shared this photo on my timeline. This is deep. And I think many people should know it.




I'm trapped, sometimes. 

Tentang Bersyukur

Ibu saya menelepon hampir setiap hari. Seakan tidak mau ketinggalan dengan yang namanya teknologi, hampir setiap hari kedua orang yang amat saya kasihi itu memanfaatkan fasilitas Line dan layanan wi-fi di rumah. Saking seringnya menelepon, saya sampai hafal dengan pola pertanyaan ibu saya. 

Udah makan?

Makannya sama apa tadi ?

Oh, Ibu baru pulang kerja nih. Capek banget...

Ada kabar apa, Neng?

Kadang, karena pertanyaannya sama, saya suka malas-malasan jawabnya. Khususnya untuk pertanyaan yang terakhir, Ada kabar apa, Neng?