Senin, 05 Juni 2017

Afi dan Plagiasi




Saya mem-follow facebook Afi beberapa bulan sebelum tulisannya yang berjudul Warisan itu jadi viral. Sebelumnya pun, Afi acap kali membuat tulisan-tulisan yang kerap panen jempol dan banyak dibagikan oleh orang-orang. Cuma yang paling booming itu ya yang Warisan itu. Kalau tidak salah sih, yang bikin saya memfollow Afi adalah tulisannya yang mengenai kepribadian bangsa bisa dilihat dari toiletnya – ya kurang lebih begitu lah judulnya. Dia mengemukakan ide-ide yang bisa bikin saya berpikir, oh iya yah. Misalnya, apakah yang aneh dengan anjuran menyiram toilet setelah dipakai pada wc umum? 


Afi bilang, yang aneh ya adanya anjuran menyiram toilet itu. Kan semua orang harusnya sudah sepakat dan paham, kalau habis pakai toilet ya disiram, nggak usah pakai diingetin lagi. Miris nggak sih sama orang Indonesia yang bahkan masih harus diingatkan soal menyiram toilet?
Afi juga mengemukakan gagasan tentang mengapa seringkali, pejabat-pejabat atau wakil rakyat yang bermental bobrok yang terpilih? Yang korupsi, yang nggak punya malu, yang begini, yang begitu – menurut Afi, miris memang, wakil rakyat itu kan orang-orang yang dianggap sebagai representasi dari masyarakat di wilayah itu. Kalau pejabat yang terpilih bermental bobrok, jangan-jangan memang begitulah cerminan mental orang-orang yang diwakilkan oleh si wakil rakyat itu. Menarik kan, idenya?

Tulisan Afi tentang Warisan membuat Afi mendapat spotlight yang sedemikian terangnya. Afi diundang ke istana untuk bertemu presiden, diundang mengisi acara talk show di UGM, mengisi kolom-kolom koran lokal dan nasional, juga beberapa wawancara televisi. Lewat tulisannya, Afi terbang lebih tinggi. Jika sebelumnya banyak komentar positif yang ditujukan ke Afi, Afi juga mulai panen kritik. Ia di cap sebagai anak berpikiran liberal yang bikin orang tua – atau calon orang tua – bergidik ngeri sambil mengucapkan semoga anak-anak mereka tidak jadi anak yang seliberal Afi. TIdak hanya itu, belakangan juga berhembus kabar tentang Afi yang memplagiasi karya orang lain – yang sebelumnya dinafikannya, lalu beberapa waktu kemudian, Afi mengaku kalau tulisannya yang super viral itu, Warisan, memang disadurnya dari hasil karya orang lain. 

Pertama kali dengar berita tentang plagiasi yang dilakukan oleh Afi, saya merasa seolah orang-orang yang tidak setuju dengan ide yang dikemukakan Afi ditulis di Warisan, mendapatkan senjata yang bagus untuk menyerang Afi. Kenapa saya berpikir seperti ini, ya jujur, karena saya pesimis jika diantara orang-orang yang menghujat Afi itu hidupnya benar-benar bebas dari plagiasi. Dan ini memang yang dijadikan Afi sebagai pembelaannya, semua orang juga pasti pernah melakukan plagiasi kok, kenapa hanya saya yang dihujat? Begitulah kira-kira katanya.

Saya pikir keragu-raguan saya ini bukannya nggak berdasar. Mau atau tidak, harus diakui kalau pengetahuan masyarakat kita akan plagiarisme itu masih rendah sekali, dan kita itungannya masih sangat toleran dengan plagiasi. Rendahnya pengetahuan akan plagiarisme ini, seringkali berujung pada ketidaksengajaan yang berulang– pelakunya bahkan nggak sadar kalau yang dia lakukan itu plagiarisme. Yang mencela Afi atas tindakannya memplagiat tulisan orang, jangan-jangan nggak sadar kalau bikin tugas dengan cara copy paste dari blog orang atau Wikipedia via Google tanpa ngasih sumber itu juga namanya plagiasi.  Waktu SMA, kita hanya tahu cara menulis daftar pustaka itu urutannya bagaimana – NaTaJuKoPen – Nama, Tahun, Judul, Kota, Penerbit, tanpa tahu apa sih itu fungsinya. 

Afi membuat klarifikasi yang membenarkan bahwa Ia memang melakukan plagiasi. Banyak yang berpendapat jika Afi ini seperti penulis yang tidak beretika, ibaratnya udah ditanya “Lo nyuri ya?” lalu dibales dengan “Iya? Emang kenapa kalau gue nyuri? Kayak lo ngga pernah nyuri aja!” dengan nada galak. Respon ini tentu saja bikin gemas banyak orang. 

Well, saya pun sebenarnya tidak kaget dengan respon Afi. Saya malah tadinya mikir kalau Afi ini nggak akan memberikan klarifikasi sama sekali, toh nanti juga isunya tenggelam. Saya juga semacam tidak mengharapkan respon yang super bijak dari Afi. Afi, mungkin dalam dunia tulis menulis ia sudah cukup mature. Tapi mungkin, dia adalah orang baru yang dalam hal popularitas, etika menulis, dan sebagainya dan sebagainya. Karena tulisan Afi mengesankan Afi sebagai orang yang sudah cukup mature dan dewasa, maka orang-orang pun menetapkan penilaian dengan standar orang dewasa kepada Afi. Saya pikir, kasus plagiasi ini merupakan kritik dan pelajaran yang berharga bagi Afi terutama mengenai bagaimana Ia mempertanggungjawabkan tulisannya, sehingga nantinya ia naik kelas, bukan hanya jadi penulis tapi juga sebagai penulis yang bertanggung jawab. Sudah selayaknya, seorang penulis bisa memikul konsekuensi dari apa yang dia tulis – baik berupa konsekuensi popularitas maupun kecaman. Mempertanggungjawabkan tulisan bukanlah hal yang mudah, bahkan bagi orang-orang yang sudah sering menulis. Mungkin Afi butuh waktu untuk mempelajari hal itu. 

Anehnya, sedikit banyak saya merasa memahami perasaan Afi. Bukan, saya nggak mau bilang kalau saya sama berbakatnya dengan Afi dalam dunia tulis-menulis. Hal yang bikin saya memahami Afi adalah, ketika saya menulis, saya menjadikan tulisan itu sebagai refleksi diri, dari apa yang saya pikirkan, apa yang saya baca. Saya kadang-kadang berpikir sambal menulis, dengan begitu rasanya semua yang ada di otak saya bisa terurai. Membuat tulisan yang ‘berisi’ namun tetap enak dibaca is one thing, and to make it viral is the other thing. Saya pikir jarang ada penulis yang nggak mau dikenal dengan tulisannya. Siapa sih yang nggak senang waktu postingannya viral, banyak di share orang, di comment sama orang, apalagi sampai bisa dipanggil presiden ke istana nya segala. Jika saya ada di posisi Afi, plagiarisme mungkin menjadi hal terakhir yang saya pikirkan. 

Terlepas dari kasus plagiasi, saya pribadi tidak bisa menafikan kalau Afi bisa melahirkan gagasan-gagasan yang luar biasa. Dia masih muda, masih punya banyak waktu untuk banyak belajar. Saya berharap hiruk pikuk plagiarisme ini membuatnya menjadi penulis yang lebih baik lagi dan lebih bertanggung jawab. Setidaknya, lewat peristiwa ini mungkin ada sebagian diantara kita yang menjadi lebih ingin tahu, dan lebih aware tentang plagiarisme sehingga bisa meningkatkan pengetahuan kita tentang hal ini. 

Saya berharap Afi tidak melakukan kembali pelanggaran yang dilakukannya, tapi Ia harus tetap menulis dan berkarya. Di tulisannya Warisan, Afi memang sudah melakukan pelanggaran dengan melakukan plagiarisme. Tapi bagaimanapun, Warisan bukan satu-satunya tulisan Afi. Saya ingin mencoba percaya kalau dari sekian banyak tulisan Afi, tidak semuanya hasil plagiasi. Afi anak yang berbakat. Rasanya saya nggak tega aja gitu, kalau ia mesti mematikan bakatnya karena kritik tajam dari orang-orang. Saya ingin berusaha menjadi orang yang bisa men-encourage seseorang, mengingat mahalnya encouragement di sekeliling saya. Tidak ada salahnya mengkritik Afi tapi ada baiknya supaya tetap santun dan membangun dalam mengkritik. Bukan mengkritik plagiasi tanpa malah menjalar ke ngomongin gimana Afi memposting foto dengan caption ‘be yourself’ tapi pakai fitur B16, yang sudah merambah ke ranah personal. Bukan hanya Afi yang harus memperbaiki diri ketika dikritik, tapi yang mengkritisi pun, harus belajar agar kritik yang kita sampaikan tetap dalam koridor dan bertujuan untuk membangun, dan bukannya menghancurkan.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar