Jumat, 12 Mei 2017

Al-Quran, Penistaan dan Cinta




Pertama, saya tidak mau berdebat tentang kasus penistaan agama. Iya, saya setuju jika apa yang dikatakan pak Ahok tentang surat Al-Maidah itu salah, beliau sudah bicara di luar kapasitasnya, dan apa yang beliau katakan itu menyakiti umat Islam. Adalah wajar buat umat Islam yang tersakiti hatinya karena kitab sucinya dihina untuk turun ke jalan, melakukan aksi-aksi yang melambangkan bagaimana kecintaan umat Islam terhadap Alquran dan meminta keadilan untuk sang pelaku. Jika memang pak Ahok akhirnya harus mendekam di hotel prodeo selama dua tahun, saya juga tidak mau mendebat ini.  Pak Ahok melakukan kesalahan, pak Ahok diputuskan bersalah dan dijatuhi hukuman – what’s done is done.  

Saya juga tidak bermaksud menyangkal kesalahan yang dilakukan pak Ahok. Pembahasan saya tentang penistaan agama berhenti pada paragraph pertama dari tulisan ini. Tulisan ini hanya bentuk keprihatinan, bagaimana seorang manusia bisa begitu jahat pada manusia lain. Bagaimana mudahnya manusia untuk merasa lebih tinggi, dari manusia lain tanpa Ia sadari. 



Saya hanya bisa geleng-geleng kepala waktu saya baca komentar, sebutan, maupun sharing-sharingan bernada kebencian tentang Ahok dan kaum minoritas. Saya jadi pikir, mungkin di mata orang-orang ini, pak Ahok bukan manusia kali ya. Mungkin bagi mereka, pak Ahok itu hanya barang yang cacat yang bebas dikata-katain sesukanya. Pak Ahok dihina dengan sebutan celeng. Waktu pak Ahok-Djarot kalah dan banyak simpatisannya yang kirim bunga, nyinyir. Waktu hakim ketok palu memutuskan pak Ahok dipenjara 2 tahun, protes, kurang lama, katanya, kasus dugaan korupsinya Ahok gimana, katanya (not to mention yang bersangkutan pura-pura lupa sama kasus korupsi pengadaan Alquran, Dana Haji, dll). Waktu simpatisannya pak Ahok melakukan aksi protes tidak terima dengan putusan hakim, nyinyir lagi, memberikan caption ‘nggilani’ (menjijikkan) pada berita tersebut yang dipostingnya. Padahal ya terserah yang dukung lah, kok nggak suka banget gitu kesannya kalau pak Ahok ada yang dukung. 

Dan saya kehilangan kata-kata, begitu melihat komentar seseorang “Pengen peristiwa Mei 1998 terjadi lagi deh”. Iya, ada orang yang pengen balik lagi ke tahun dimana berapa banyak manusia dibunuh, dibakar hidup-hidup, dirampas hartanya, diperkosa di depan keluarganya, tahun dimana seseorang hanyak punya pilihan : loncat dari gedung dan mati, atau diam di tempat, menunggu massa lalu dibakar hidup-hidup? Saya berusaha sekali, berusaha sekali, untuk nggak suuzon, kalau kata-kata ini keluar dari mulut yang sama, yang mengatakan bahwa Ia mencintai Alquran, mencintai Islam.
Sempat terlintas di benak saya, jika saya minoritasnya, jika saya Ahok-nya, dengan situasi yang seperti ini, saya pasti merasa takut sekali. Merasa marah sekali. Merasa tidak berdaya sekali. Atas nama menghukum orang yang menistakan Alquran, apakah itu berarti lampu hijau bagi kita untuk berkata dan berlaku jahat pada orang lain padahal, Alquran yang dibela karena dinistakan itu jelas-jelas melarangnya? 

Saya memilih untuk tidak men-define seseorang dari kesalahannya. Katanya, kalau kita membenci seseorang, bencilah dia karena apa yang dilakukannya, bukan karena pribadinya. Saya tidak berbicara mentolerir atau memaafkan. Saya adalah orang yang bingung – dibalik kesalahannya – saya merasakan betul kinerja luar biasa dari pak Ahok ini. Fasilitas public yang semakin nyaman, akselerasi pembangunan yang semakin signifikan, kesejahteraan petugas kebersihan dan pertamanan, ide briliannya membangun jalan semegah lingkar Semanggi tanpa APBD. Lucunya adalah, orang-orang yang sepertinya luar biasa bencinya sama pak Ahok ini, saya ragu apakah mereka pernah ke Jakarta di jaman pak Ahok ini. Pernahkah mereka menjalani rutinitas at least 1 minggu saja di Jakarta sebelum membentuk kebencian sedemikian rupa. Yuk, main ke Jakarta. Yuk, jadi bingung sama-sama. 

Beruntunglah orang-orang yang sudah mengamalkan ajaran Islam secara kaffah – mengamalkan seluruh ajaran Islam tanpa melakukan tebang pilih. Untuk mereka, mungkin sekat antara yang benar dan yang salah pasti kelihatan begitu jelasnya.  Mungkin, orang-orang seperti saya, yang masih harus ditempa lagi keimanannya. Mungkin yang orang-orang seperti saya butuhkan adalah alasan untuk lebih mencintai, bukan hanya Alquran, tapi juga mencintai saudara-saudara seiman saya yang lembut hatinya, yang mengamalkan Islam dengan sebenar-benarnya. Yang besar hatinya, yang sejuk, yang terbuka, yang bisa dengan santun berdiskusi dengan saya mengenai pemikiran-pemikiran saya – yang tidak memvonis saya dengan sebutan liberal, munafik, kafir, pendukung penista agama – yang sedikit banyak membuat saya pesimis, apakah saya sejelek itu? Anggaplah saya anak kecil yang sedang belajar, apakah dengan sebutan “Kamu bodoh ya, kamu gampang dibohongin ya?” apakah kemudian saya jadi tambah semangat belajar? Saya mungkin tidak sekuat itu.   Dengan maraknya kasus Ahok ini, saya bertanya-tanya, masih adakah orang seperti itu?

Alasan mereka membenci apa yang dilakukan Ahok, karena mereka cinta sekali sama Alquran kan? Selayaknya cinta sama seseorang, kita nggak terima waktu ada yang bicara jelek tentangnya. At the same time, kita akan selalu berusaha untuk menuruti apa yang dia pinta, menjauhi apa yang dia larang. Jadi, saya pikir, bagaimana bisa orang-orang yang mengaku mencintai Alquran ini berbuat jahat sama sesama manusia padahal Alquran jelas-jelas melarang itu? 

Kebencian ini, apakah efek dari rasa cintamu? Atau sebenarnya, ini hanya ego pribadimu yang bersembunyi dibalik cinta?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar